Jakarta. Jelajahpenanews. Com – Dokter Tifa mencurigai adanya motif tersembunyi di balik pernyataan Jusuf Kalla yang meminta Presiden ketujuh RI, Joko Widodo, untuk segera memamerkan ijazah asli miliknya ke publik.
Sang dokter spesialis yang tengah menghadapi perkara hukum ini menilai imbauan dari tokoh senior tersebut justru menjadi isyarat kuat bahwa ada sesuatu yang sengaja tidak ingin diperlihatkan oleh pihak istana.
Ia menyampaikan analisisnya tersebut di akun media sosial X (dulu Twitter) miliknya, @Tifauzia, pada tanggal 9 April 2026, sebagai respons terhadap manuver politik yang kian memanas.
”Saya melihat ini sebagai pengalihan isu yang sangat klasik,” tegas Tifa dalam cuitannya yang langsung ramai diperbincangkan warganet.
Jika benar ijazah itu sah dan tidak cacat prosedur, menurutnya, maka membuktikannya secara terbuka dan ilmiah adalah langkah paling sederhana untuk membungkam semua fitnah.
Namun yang terjadi justru sebaliknya, yaitu penundaan terus-menerus, pengalihan topik pembicaraan, serta upaya kriminalisasi terhadap mereka yang bertanya.
Perilaku semacam itu, lanjut Tifa, tidak akan pernah bisa dibaca oleh publik sebagai sebuah upaya klarifikasi jujur.
Sebaliknya, publik akan menangkap sinyal yang sangat berbeda, yaitu adanya sebuah realitas yang sengaja disembunyikan dengan segala cara.
Oleh karena itu, ia secara gamblang menantang Jokowi untuk berani mengakui foto ijazah yang sempat diunggah oleh politisi PSI, Dian Sandi Utama, sebagai dokumen miliknya sendiri.
”Pak Jusuf Kalla minta Jokowi menunjukkan ijazah aslinya bulan April 2026. Pertanyaan saya, beranikah Jokowi mengaku ijazah yang diunggah Dian Sandi ini sebagai ijazahnya?” cuit Tifa dengan nada keras.
Keyakinan bahwa dokumen yang beredar luas di media sosial itu palsu didasari oleh metode statistik yang ia lakukan bersama mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Roy Suryo.
Melalui simulasi Monte Carlo dan model Bayesian, ia mengklaim menemukan fakta bahwa foto yang tertempel di lembar ijazah tersebut berbeda secara signifikan dengan foto fisik Jokowi.
”Foto yang ada di ijazah saya analisis dengan perhitungan matematika model Bayesian dan Monte Carlo. Bahwa foto di ijazah ini berbeda sebesar 92,37% dengan foto Joko Widodo yang jadi Presiden,” ujar Tifa, mengutip hasil penelitiannya.
Sementara itu, kuasa hukum Jokowi, Rivai Kusumanegara, memilih merespons dingin seruan dari Jusuf Kalla.
Ia mendorok agar perkara ini diselesaikan secara hukum di muka persidangan yang terbuka untuk umum.
Menurut Rivai, di sanalah tempat paling tepat bagi kliennya untuk memperlihatkan ijazah asli di hadapan publik dan awak media.
Sebelumnya, Jusuf Kalla sempat menyebut kasus ini telah berlangsung terlalu lama, yaitu sekitar dua hingga tiga tahun, sehingga dinilai merugikan masyarakat.
Bahkan, JK sendiri telah melaporkan aktivis Rismon Sianipar ke Bareskrim Polri terkait tuduhan bahwa ia mendanai Roy Suryo dalam kasus ijazah ini.








