Banten. Jelajahpenanews. Com -Tiga hari besar keagamaan berlangsung hampir pada waktu yang bersamaan di akhir Maret dan awal April 2026. Perayaan keagamaan ini dirayakan oleh penganutnya masing-masing dengan khidmat dan dipastikan berlangsung aman dan damai. Peristiwa ini menandakan umat beragama di Indonesia menjunjung toleransi cukup tinggi dengan penuh kedamaian.
Penulisan puisi yang mengungkap pengalaman spiritual dari berbagai kalangan umat beragama dari perayaan hari besar keagamaan tersebut, parti menarik serta memiliki nilai-nilai spiritualitas dan religiusitas yang dapat memperkaya khazanah kebatinan untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Karena itu Komunitas Satu Pena Jawa Timur yang dibesut oleh Akaha Taufan Aminudin yang juga menjadi Koordinator Himpunan Penulis Pengarang Penyair Nusantara (HP3N) dari Kota Batu Wisata Satra Budaya Jawa Timur, mengajak Webinar baca puisi spiritual setelah Nyepi, Ramadhan, Lebaran dan Pulang Mudik serta Menjelang Paskah.
Penyair Indonesia yang semakin Gandrung pada menulis puisi spiritual dan penuh nuansa religius ini, setidaknya menunjukkan kesadaran serta pemahaman tentang spiritualitas itu penting dan perlu untuk membangun budaya bangsa agar berkontribusi dalam menemukan peradaban dunia yang baru ditengah gemuruh dan gemerataknya teknologi dan arus informasi yang begitu pesat melesat, seakan bersaing dengan rudal balistik Iran yang canggih dan dahsyat itu.
Tradisi dalam puisi religius Indonesia yang sarat muatan spiritual memang sudah ada sejak pujangga lama hingga pujangga baru sampai Republik Penyair dipimpin oleh Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Kalzoum Bachri. Meski jauh sebelum itu — di Ngayogyakarta Hadiningrat pada tahun 1970-1980 — telah Republik Penyair Lokal, Presiden Penyair Malioboro yang disandang oleh Ki. Umbu Landu Paranggi. Dan cantrik unggulannya kini yang menjadi penguasa jagat spiritual dengan basis kepenyairannya yang religius dan penuh muatan spiritual itu ialah Kyai Kanjeng Emha Ainun Nadjib yang berhasil melakukan ekspansi ke berbagai daerah, wilayah bahkan kawasan luar dari negara Indonesia seperti Maha Patih Majapahit, Gajah Mada.
Akaha Taufan Aminudin selaku pihak penyelenggara dan pengundang acara baca puisi bernuansa spiritual ini pasti berharap peserta dari berbagai sanggar, padepokan atau bahkan seperti sindikat penyair dari berbagai daerah dan tempat berkenan ikut ambil bagian. Dari keikutsertaan acara webinar pembacaan puisi spiritual ini tentu saja tak cuma sekedar supaya marak dan meriah. Tapi dibalik semua itu acara semacam ini bisa dijadikan forum nostalgia sekalian acara kangen-kangenan, karena seingat saya HP3N dahulu yang digagas dan dimotori oleh penyair Yogya, seperti Redi Panuju, Na’im Emel Prahana, Eddy Lasicra, Fauzi Absal, Joko Pinurbo dan sejumlah penyair lain dari berbagai daerah, seperti Isbedi Setiawan (Lampung) dan kawan-kawan lainnya, perlu untuk disensus ulang. Setidaknya dengan begitu tidak sampai hilang dari catatan sejarah kepenyairan tanah air kita, seperti Ahmadun Yosi Herfanda yang punya karya “Do’a Untuk Yang Tidak Terlihat”. Dorothea Rosa Herliany punya puisi religius berjudul “Magnificat”. Afrizal Malna menulis puisi “Tuhan Ada di Mana-mana. Dan Wahyu Sulaiman Rendra menulis tentang ” Khotbah”, D. Zawawi Imron menulis puisi ” Do’a”. Hingga Danarto dengan karya puisi eksperimentalnya yang penuh simbol menuliskan puisinya berjudul”Abstraksi”.
Dan Ingat penyair Taufik Ismail punya banyak karya puisi religius yang dilantunkan Bimbo diantaranya “Sajadah Panjang” yang meren yang merentang sampai sampai kuburan. Artinya, spiritualitas itu pun hanya akan berakhir berakhir dan tertancap di batu nisan setiap penyair.








