Ompreng MBG, ,Perang dan Gerakan Moral PetaniAbbet Nugroho Soroti Peran Petani dan Ketahanan Pangan di Tengah Gejolak Dunia

Reporter: Ali Wafi

Magelang, Jelajahpenanews.com – Seniman dan budayawan Magelang, Abbet Nugroho, menyoroti pentingnya peran petani dalam menjaga ketahanan pangan nasional di tengah dinamika geopolitik dunia. Dalam pandangannya, petani merupakan fondasi utama peradaban bangsa yang sering kali luput dari perhatian masyarakat modern.

Menurut Abbet, kehidupan para petani di lereng gunung seperti kawasan Gunung Merbabu mencerminkan kemandirian dan kesederhanaan yang jarang disadari oleh masyarakat perkotaan. Setiap hari mereka menanam sayuran, merawat tanaman, memberi pupuk, hingga memanen hasilnya untuk dijual ke pasar. Hasil tersebut kemudian diputar kembali untuk memenuhi kebutuhan hidup selama beberapa bulan ke depan.

“Petani hidup dengan kesederhanaan dan disiplin tinggi. Mereka tidak terbiasa dengan gaya hidup konsumtif seperti nongkrong di kafe atau berlibur setiap akhir pekan. Cara makan mereka pun sederhana, memetik sayur di pekarangan dengan lauk sambal, ikan asin, atau tahu tempe,” ujarnya.

Menurutnya, kesederhanaan tersebut bukan karena keterbatasan semata, tetapi lebih karena cara hidup yang mengutamakan keseimbangan dan keberlanjutan ekonomi keluarga hingga masa panen berikutnya.

Perempuan-perempuan di daerah pegunungan, lanjutnya, juga menjalani kehidupan serupa. Mereka tampil sederhana tanpa harus mengikuti tren kecantikan modern. Namun hal tersebut tidak mengurangi rasa percaya diri mereka karena fokus utama adalah bekerja dan menjaga kehidupan keluarga.

“Dalam nilai spiritual Jawa ada konsep nrimo ing pandum, menerima dengan ikhlas apa yang menjadi bagian hidupnya. Ini menunjukkan kekuatan batin yang luar biasa,” katanya.

Falsafah Pacul dalam Budaya Jawa

Abbet juga mengingatkan pentingnya generasi muda memahami akar budaya bangsa. Salah satu simbol penting dalam budaya agraris Jawa adalah pacul atau cangkul yang menjadi alat utama petani.

Dalam tradisi dakwah Islam di Jawa, tokoh Wali Songo Sunan Kalijaga memaknai pacul sebagai filosofi kehidupan melalui ungkapan “papat ojo nganti ucul”, yang berarti empat hal jangan sampai lepas dari kendali.

Empat hal tersebut adalah mata, telinga, hidung, dan mulut yang harus digunakan untuk kepentingan rakyat. Mata untuk melihat kesulitan rakyat, telinga untuk mendengar keluhan mereka, hidung untuk merasakan penderitaan masyarakat, serta mulut untuk menyampaikan kejujuran dan keadilan.

Filosofi ini juga tercermin dalam lagu rakyat “Gundul-Gundul Pacul” yang sejak dahulu menjadi kritik sosial bagi para pemimpin agar tidak berlaku sewenang-wenang dalam menjalankan amanat rakyat.

“Petani adalah kekuatan peradaban. Kita mungkin masih bisa hidup tanpa internet, tetapi tidak bisa hidup tanpa makanan,” kata Abbet.

Pelajaran Sejarah Ketahanan Pangan

Dalam catatan sejarah, ketahanan pangan juga menjadi faktor penting dalam peperangan. Pada tahun 1629, Raja Mataram Sultan Agung pernah menyerang Batavia yang dikuasai VOC. Serangan pertama gagal karena minimnya logistik dan wabah penyakit.

Setelah melakukan evaluasi, pasukan Mataram menyiapkan cadangan pangan dengan menanam bahan makanan di sepanjang jalur pantai utara Jawa sebagai persediaan logistik perang.

Namun upaya tersebut akhirnya diketahui oleh pihak VOC dan lumbung-lumbung padi yang disiapkan pasukan Mataram dihancurkan.

“Dari sejarah itu kita belajar bahwa perang tidak hanya dimenangkan dengan senjata, tetapi juga dengan ketersediaan pangan,” jelasnya.

Ketahanan Pangan dalam Geopolitik Global

Abbet menilai kondisi geopolitik dunia saat ini menuntut setiap negara memperkuat ketahanan pangannya. Meski Indonesia menganut politik luar negeri bebas aktif dan tidak terlibat langsung dalam konflik global, kesiapan pangan tetap menjadi faktor penting.

Ia menilai sejumlah program pemerintah di era Presiden Prabowo Subianto seperti pembangunan lumbung pangan nasional, program cetak sawah, hingga pembentukan koperasi desa merupakan langkah strategis untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.

Program tersebut juga berkaitan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang saat ini mulai dijalankan di berbagai daerah.

Menurut Abbet, program MBG tidak hanya bertujuan meningkatkan gizi anak-anak Indonesia, tetapi juga berpotensi menyerap hasil produksi para petani dan peternak di daerah.

“Dapur MBG bisa menjadi solusi agar hasil pertanian seperti sayuran, telur, dan susu terserap pasar. Kita pernah melihat harga hasil panen anjlok karena daya beli masyarakat rendah,” katanya.

Kritik dan Pengawasan Program MBG

Meski demikian, ia mengakui adanya beberapa kasus penyimpangan yang terjadi dalam pelaksanaan program MBG di lapangan.

Namun ia menilai hal tersebut tidak seharusnya membuat masyarakat menolak program secara keseluruhan.

“Kita boleh marah jika ada oknum yang menyalahgunakan program. Tetapi jangan sampai programnya yang disalahkan. Kritik tetap perlu, namun harus disertai pengawasan agar program ini berjalan sesuai tujuan,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh opini negatif yang berpotensi memecah dukungan terhadap program strategis nasional.

Menurutnya, program peningkatan gizi anak dan penguatan ketahanan pangan merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa.

“Anak-anak Indonesia yang hari ini mendapatkan gizi cukup adalah modal besar bagi masa depan negara,” katanya.

Bagikan