SENGKUNI : “Tokoh Simbol Politik Praktis Menghalalkan Segala Cara, Ahli Fitnah dan Licik.”

Reporter : karjoko



‎JAKARTA. Jelajahpenanews com

‎ Senin (2/3/2026), Sengkuni (Trigantalpati) adalah patih Astina yang licik, penghasut, dan antagonis utama dalam Mahabharata yang mendalangi konflik Kurawa-Pandawa. Saudara Dewi Gendari ini bertubuh pucat (akibat cacat fisik oleh Gandamana) dan menggunakan dadu curang untuk merebut Indraprasta.

‎Sengkuni tewas mengenaskan oleh Bima di Bharatayudha.


‎Berikut kisah latar belakang ;

‎Sengkuni adalah putra Prabu Subala dari Kerajaan Gandhara. Ia adik dari Dewi Gendari, istri Prabu Drestarastra (raja Astina yang buta).



‎Sengkuni sejak lahir/kecil dirasuki Batara Dwapara (dewa kelicikan). Dalam pewayangan Jawa, ia digambarkan bermuka pucat kebiru-biruan, bicaranya menjengkelkan, licik, pendendam, dan ahli memfitnah.


‎Asal-usul kecacatan (Versi Jawa),wajah tampannya hancur dan ia berjalan pincang setelah dihajar oleh Gandamana, patih Astina saat itu, karena mencoba merebut posisi patih dengan kelicikan


‎Sengkuni adalah penasihat utama Duryudana (keponakannya). Ia selalu mengobarkan kebencian Kurawa kepada Pandawa untuk merebut takhta Astina.


‎Kecurangan utama mencoba membakar Pandawa di rumah lilin.


‎Permainan dadu, Sengkuni memanipulasi permainan dadu melawan Yudhistira, menyebabkan Pandawa kehilangan kerajaan, harta, bahkan membuang diri ke hutan selama 13 tahun.


‎Akhir hayat (Bharatayudha), Sengkuni tewas di tangan Bima (Werkudara). Bima merobek mulut dan dubur Sengkuni, bagian tubuh yang tidak terkena minyak sakti saat ia masih muda, membalas seluruh kelicikannya.


‎Sengkuni dianggap sebagai simbol politik praktis yang menghalalkan segala cara dan menjadi tokoh yang sangat dibenci dalam cerita pewayangan.


Bagikan