Perlawanan Total Sang Raja Terakhir Sultan Syarif Kasim II Melawan Belanda‼️

Reporter : Gombloh

Surabaya . jelajahpenanews.com – SIAK SRI INDRAPURA, 1915-1949 — Perjuangan melawan kolonialisme tidak selalu berdarah-darah di medan perang, terkadang pertempuran terbesar terjadi di ruang diplomasi, penolakan kebijakan, dan pengorbanan harta. Sultan Syarif Kasim II (Sultan Siak ke-12) adalah arsitek perlawanan unik di Tanah Melayu. Ia menolak tunduk pada tekanan Belanda sejak awal pemerintahannya (1915) hingga akhirnya menyerahkan kedaulatan Siak demi tegaknya Republik Indonesia.

Kisah beliau adalah drama patriotisme seorang raja yang memilih menjadi rakyat biasa demi sebuah bangsa merdeka.

BABAK I: Menolak Kewajiban, Memantik Amarah Kolonial (1915-1942)
Sikap Tegas di Istana: Sultan yang Menentang Kerja Rodi!

Sultan Syarif Kasim II naik takhta pada tahun 1915, di usia 22 tahun. Meskipun mendapat pendidikan elit dari sekolah Belanda di Batavia, jiwanya tertanam kebencian mendalam terhadap penjajahan.

Konfrontasi awal Sultan dengan Belanda meletus akibat kebijakan eksploitatif VOC yang mewajibkan rakyat Siak melakukan kerja rodi (kerja paksa). Sultan Syarif Kasim II secara terbuka menentang dan menolak kebijakan ini.

“Penentangan ini oleh pihak Belanda dianggap sebagai penolakan pribadi Sultan. Belanda tak bisa terima. Sultan Syarif Kasim II dianggap memberontak,” demikian dicatat dalam beberapa sumber sejarah.

Tindakan Balasan Belanda yang Dramatis: Belanda merespons penolakan Sultan dengan kekerasan, melakukan pembakaran terhadap rumah-rumah penduduk di sekitar Siak, dan bahkan mendatangkan bala bantuan militer di bawah pimpinan Letnan Leitser—seorang perwira yang berpengalaman dalam Perang Aceh—untuk menumpas “pemberontakan” politik Sang Sultan.

Namun, alih-alih menyerah, Sultan Syarif Kasim II terus memperkuat pendidikan rakyatnya, mendatangkan tenaga pengajar dari Padang dan Mesir, sebagai bentuk perlawanan kultural dan intelektual terhadap upaya pembodohan kolonial.

BABAK II: Proklamasi: Pengorbanan Total Sang Raja (Agustus 1945)
Sejuta Gulden dan Mahkota Emas untuk Republik!

Saat proklamasi kemerdekaan Indonesia digaungkan pada 17 Agustus 1945, Sultan Syarif Kasim II tidak menunggu. Hanya beberapa hari setelah mendengar kabar proklamasi, beliau mengambil keputusan paling revolusioner dalam sejarah Kesultanan Siak.

Dalam sebuah momen yang sangat dramatis, Sultan Syarif Kasim II segera mengirimkan telegram kepada Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta yang berisi:

Pernyataan bahwa Kerajaan Siak Sri Indrapura adalah bagian integral dari Republik Indonesia.

Penyerahan kedaulatan mutlak Kesultanan Siak kepada Republik.

Untuk mendukung perjuangan Republik yang baru lahir, yang kala itu kekurangan dana, Sultan melakukan pengorbanan yang tak ternilai harganya:

Menyumbangkan uang tunai sebesar 13 Juta Gulden (nilai yang sangat fantastis saat itu)

Menyerahkan mahkota emas, pedang, dan seluruh harta kekayaan Kerajaan Siak (termasuk Istana Asserayah Hasyimiyah) kepada Presiden Soekarno di Yogyakarta.

“Bahkan, tanpa ragu Sultan Syarif Kasim II menyerahkan harta kekayaan dan istananya untuk Republik Indonesia,” tulis Dinas Sosial Provinsi Riau. Pengorbanan harta ini menjadi salah satu penopang finansial utama Republik di masa-masa awal yang genting.

BABAK III: Perang Diplomasi dan Agresi Belanda (1946-1949)
Pidato Radio dari Aceh: Seruan Melawan Agresi Militer!

Pengakuan Sultan Syarif Kasim II terhadap Republik memukul telak Belanda yang berupaya kembali menduduki Sumatera (Agresi Militer I dan II). Belanda mencoba menghidupkan kembali dewan-dewan kerajaan lama untuk melawan Republik, tetapi Sultan Syarif Kasim II menentangnya keras.

Sultan kemudian berpindah dari Siak ke Pematang Siantar, dan akhirnya mengungsi ke Kutaraja (Banda Aceh), yang merupakan zona aman Republik. Dari pengungsiannya, Sultan terus berjuang:

Melobi Raja-Raja Sumatera Timur: Bersama Sultan Serdang, beliau secara aktif membujuk raja-raja lain di Sumatera Timur agar melepaskan loyalitas kepada Belanda dan mendukung penuh Republik.

Pidato Radio Revolusioner: Sultan menggunakan Radio Republik Indonesia (RRI) dari Kutaraja untuk menyampaikan pidato yang menyerukan kepada seluruh rakyat Siak dan raja-raja di Sumatera agar terus berjuang menegakkan dan mempertahankan Republik Indonesia. Pidato ini memiliki efek dorongan moral yang luar biasa.

Menolak Delegasi Palsu: Sultan dengan tegas menyatakan bahwa delegasi yang dikirim Belanda ke Konferensi Meja Bundar (KMB) untuk mewakili Siak adalah tidak sah, memastikan bahwa kedaulatan Siak hanya milik Republik.

Sultan Syarif Kasim II wafat pada tahun 1968 sebagai rakyat biasa di Rumbai, Pekanbaru. Beliau adalah raja yang rela melepaskan tahta, istana, dan kekayaan demi cita-cita kemerdekaan bangsa.

Atas peranannya yang tak tertandingi dalam meletakkan pondasi Riau sebagai bagian dari Indonesia dan sumbangan hartanya, Sultan Syarif Kasim II dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada tahun 1998 (SK Presiden RI Nomor 109/TK/1998).

SUMBER BERITA:

SK Presiden RI Nomor 109/TK/1998 (Pengangkatan Pahlawan Nasional).

Yudi Latif, Mata Air Keteladanan: Pancasila dalam Perbuatan.

Kajian Sejarah Riau dan Kesultanan Siak Sri Indrapura.

Dinas Sosial Provinsi Riau.

Catatan sejarah tentang Peran Sultan Syarif Kasim II di masa Revolusi Fisik (1945-1949).

Bagikan