Surabaya . jelajahpenanews.com – Di tengah gempuran blokade laut Belanda yang mencekik Republik Indonesia, kisah kepahlawanan seorang perwira tinggi TNI Angkatan Laut, Laksamana John Lie, menjadi legenda yang membangkitkan semangat bangsa. Dijuluki “Hantu Selat Malaka,” pria berdarah Tionghoa ini berhasil menembus barisan kapal perang musuh berulang kali, demi nyawa dan senjata untuk para pejuang.
MISI MAUT SANG PENYELUNDUP
Saat Agresi Militer Belanda II mengisolasi Indonesia, kas negara menipis dan pasokan senjata terputus. Di sinilah John Lie (Lie Tjeng Tjoan), dengan kapal cepatnya yang legendaris, “The Outlaw” (PPB 58 LB), mengambil peran yang menentukan.
Bayangkan ketegangan di atas geladak: Di bawah temaram malam tanpa bulan, “The Outlaw” melaju kencang, menantang ombak ganas dan sorotan lampu kapal patroli Belanda yang bertebaran di Selat Malaka. Kapal kecil itu sarat muatan, bukan hanya senjata dan amunisi yang dibarter dari luar negeri, tetapi juga hasil bumi Indonesia seperti karet dan kopi, komoditas berharga yang menjadi darah segar bagi perbendaharaan negara yang nyaris kosong.
“Setiap pelayaran adalah pertaruhan nyawa. Kami membawa harapan satu bangsa di atas kapal kecil ini,” demikianlah spirit yang diyakini John Lie dan awaknya.
DIKEJAR BELANDA, DILINDUNGI TUHAN
Perjuangan John Lie penuh drama emosional. Ia tidak hanya harus berhadapan dengan meriam kapal perang Belanda yang jauh lebih besar dan canggih, tetapi juga dengan bahaya laut yang tak terduga.
Dalam salah satu pelayaran kritis, kapal “The Outlaw” nyaris tertangkap patroli. Pesawat Belanda terbang rendah, memaksa mereka menjauhi pelabuhan tujuan di Sumatera. Namun, dengan kecerdikan dan keberanian luar biasa, John Lie tidak menyerah. Ia bahkan pernah ditangkap di Singapura oleh otoritas setempat atas tuduhan penyelundupan, namun pengadilan di sana membebaskannya karena ia membela diri dengan tegas: “Saya bukan penyelundup. Saya hanya menjalankan tugas negara untuk menyelamatkan Republik saya!”
Keberhasilannya menembus blokade hingga lebih dari 15 kali, mencakup rute berbahaya ke Singapura, Penang, Bangkok, hingga New Delhi, membuatnya dijuluki “The Black Speed Boat” oleh BBC dan “The Smuggler of the Bible” (Penyelundup Alkitab) oleh media Barat, karena ia diketahui selalu membawa Alkitab berbahasa Inggris dan Belanda dalam setiap misi mautnya. Ia adalah perwira yang menjunjung tinggi etika dan integritas.
PAHLAWAN TANPA MEMANDANG SUKU
Laksamana Muda John Lie tidak hanya berperang melawan musuh di laut, tetapi juga berjuang membuktikan bahwa kesetiaan kepada Ibu Pertiwi tidak dibatasi oleh latar belakang suku atau keturunan. Darah Tionghoa yang mengalir dalam dirinya adalah darah yang sama dengan semangat juang rakyat Indonesia lainnya.
Pengabdiannya tidak berhenti setelah Revolusi Kemerdekaan. Ia melanjutkan jasa-jasanya di TNI AL, ikut menumpas gerakan separatis seperti Republik Maluku Selatan (RMS) dan PRRI/Permesta.
Kisah John Lie adalah pengingat abadi bahwa di masa paling genting Republik ini, ada seorang pelaut pemberani yang mengubah kapal kecil menjadi perahu perjuangan, melawan kekuasaan raksasa kolonial, dan membawa bekal kehidupan bagi kemerdekaan Indonesia.
Sumber Informasi:
Wikipedia Bahasa Indonesia, “John Lie” (Informasi Biografi dan Jabatan)
Historia.ID, “John Lie, Si Penyelundup yang Humanis” (Julukan dan Detil Pelayaran)
Validnews.id, “Ali Anyang, Perawat Kemerdekaan RI di Kalimantan Barat” (Perbandingan Latar Belakang)
CNN Indonesia, “Mengenang John Lie, Spesialis Penembus Blokade Laut” (Misi Penyelundupan dan Kapal “The Outlaw”)
Scribd.com, “Laksamana Muda John Lie – Pahlawan Angkatan Laut” (Jumlah Misi Penyelundupan)








