Tragedi yang Membungkam Pahlawan 10 November.
Diculik Gerombolan Komunis di Ngawi, Gugur Setelah Peringatan Bung Hatta Diabaikan
Yogyakarta . jelajahpenanews.com –Madiun, September 1948.
Bulan itu, sejarah Indonesia tidak sekadar mencatat pergolakan politik. Di tengah republik yang masih muda dan rapuh, seorang putra terbaik bangsa, Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo—yang lebih dikenal sebagai Gubernur Suryo—harus mengakhiri hidupnya secara mengenaskan. Bukan di medan tempur melawan penjajah, melainkan di tangan saudara sebangsanya sendiri.
Gubernur pertama Jawa Timur (1945–1948) itu gugur dalam pusaran Pemberontakan PKI Madiun, sebuah tragedi berdarah yang meninggalkan luka mendalam bagi republik. Ia kelak dianugerahi gelar Pahlawan Nasional, namun penghormatan itu datang setelah nyawanya direnggut dengan kejam.
Nama Gubernur Suryo tak terpisahkan dari lembar heroik 10 November 1945. Dialah tokoh yang memimpin perundingan gencatan senjata dengan Komandan Pasukan Inggris, Brigadir Jenderal Mallaby, pada 26 Oktober 1945 di Surabaya—peristiwa yang kemudian berujung pada pecahnya pertempuran terbesar dalam sejarah revolusi Indonesia. Ironisnya, pahlawan pertempuran itu justru menemui ajal dalam sunyi, jauh dari sorak perjuangan.
PERINGATAN YANG TAK MAMPU MENYELAMATKAN TAKDIR
Tragedi ini bermula saat Gubernur Suryo hendak kembali ke Madiun usai menghadiri peringatan 10 November di Yogyakarta. Perjalanan itu bukan sekadar tugas kenegaraan, ia juga hendak menghadiri acara empat puluh hari wafatnya sang adik, yang lebih dulu menjadi korban kebrutalan PKI.
Wakil Presiden Mohammad Hatta, dengan kegelisahan yang tak disembunyikan, dikabarkan berulang kali memperingatkan Suryo agar membatalkan niatnya. Jawa Timur sedang bergolak, Madiun telah berubah menjadi ladang maut. Namun Gubernur Suryo menolak mundur. Dengan keteguhan yang kelak terasa tragis, ia memilih berangkat bersama dua ajudannya, Mayor Soehardi dan sopirnya, Letnan Soenarto.
PERJALANAN YANG SEOLAH DITOLAK OLEH TAKDIR
Sejak awal, perjalanan itu seperti dipenuhi isyarat buruk. Ban mobil pecah. Bensin habis. Rombongan bahkan dua kali harus kembali ke titik awal, seakan jalan itu sendiri menolak dilewati.
Di Solo, Residen Diro menahan langkah Gubernur Suryo. Ia memohon agar sang gubernur bermalam dan membatalkan perjalanan ke Madiun. Bahaya terlalu nyata untuk diabaikan. Namun keputusan telah bulat. Dengan langkah berat namun pasti, rombongan kembali melaju menuju takdir yang tak bisa lagi dielakkan.
EKSEKUSI SUNYI DI HUTAN SONDE
Harapan terakhir itu padam di Desa Bogo, Kedunggalar, Ngawi. Mobil Gubernur Suryo dicegat oleh gerombolan PKI yang dipimpin Maladi Yusuf. Tanpa ampun, mereka diseret keluar, digiring ke dalam hutan, lalu dieksekusi secara kejam di Hutan Sonde—tanpa pengadilan, tanpa belas kasihan.
Empat hari berselang, warga menemukan jasad Ario Soerjo di sekitar Kali Kakah, Dukuh Ngandu, Desa Bangunrejo Lor. Tubuh tak bernyawa itu menjadi saksi bisu kebiadaban yang mencabik nilai kemanusiaan. Kabar penemuan jenazah akhirnya sampai ke Bupati Madiun, Kusnendar, sepupu almarhum dan menyebar ke seluruh penjuru negeri.
Kematian Gubernur Suryo bukan sekadar gugurnya seorang pejabat negara. Ia adalah simbol pengkhianatan paling getir dalam Tragedi Madiun 1948: saat darah anak bangsa tumpah oleh tangan bangsanya sendiri, dan republik muda harus belajar arti kehilangan dengan cara paling menyakitkan.







