Surabaya, Jelajahpenanews.com — Sehubungan dengan beredarnya undangan Peringatan Hari Lahir (Harlah) Nahdlatul Ulama ke-100 Tahun Masehi, pada Senin, 26 Januari 2026, disampaikan pernyataan resmi yang diawali dengan salam:
“اسلام عليكم ورحمة الله وبركاته”
Teriring doa serta salam, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberikan bimbingan dan pertolongan kepada kita. Amin.
Disampaikan dengan hormat bahwa pada hari Senin, 26 Januari 2026, telah diterima banyak pertanyaan dari berbagai pihak terkait kebenaran undangan Peringatan Hari Lahir Nahdlatul Ulama ke-100 Masehi sebagaimana terlampir. Sehubungan dengan hal tersebut, dimohon agar pihak terkait dapat memberikan klarifikasi atas kebenaran undangan tersebut
.

Sebagai pengingat, sejak pertemuan yang berlangsung di Pondok Pesantren Miftachussunnah Surabaya pada Jumat pagi, 26 Desember 2025, telah ditegaskan pentingnya pelaksanaan Rapat Pleno guna menindaklanjuti hasil Rapat Konsultasi Syuriyah dengan Mustasyar yang dilaksanakan sehari sebelumnya.
Hal yang sama juga disampaikan pada Senin, 12 Januari 2026, ketika rencana kegiatan tanggal 31 Januari 2026 disampaikan. Pada saat itu, kembali dipertanyakan kapan agenda Rapat Pleno akan dilaksanakan. Namun pertanyaan tersebut dijawab dengan usulan pelaksanaan Rapat Gabungan, yakni Rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah.
Saat ini, masih menunggu respons atas surat jawaban tertanggal 24 Januari 2026 yang telah dikirimkan. Diharapkan surat permohonan maaf tersebut dapat menutup kegaduhan secara menyeluruh. Sebagaimana telah disampaikan sebelumnya, surat jawaban tersebut merupakan hasil musyawarah selaku Rais Aam bersama dua Wakil Rais Aam, dengan tujuan agar kegaduhan segera berhenti dan kebersamaan seperti awal-awal kepengurusan PBNU dapat segera terwujud sesuai dengan ketentuan dan mekanisme yang berlaku.
Disebutkan pula bahwa ketika disodorkan draf surat undangan untuk Presiden yang hanya ditandatangani oleh dua pihak, telah disampaikan bahwa undangan tersebut seharusnya ditandatangani oleh empat pihak sebagaimana lazimnya. Pertimbangan tersebut agar Presiden dan masyarakat mengetahui bahwa PBNU telah kembali normal seperti semula. Namun demikian, terdapat prosedur organisasi yang harus dipenuhi sebelum penandatanganan dapat dilakukan, yakni melalui penyelenggaraan Rapat Pleno.
Oleh karena itu, diharapkan agar rencana penyelenggaraan kegiatan Peringatan Hari Lahir Nahdlatul Ulama ke-100 Tahun Masehi di Istora Senayan, Jakarta, pada 31 Januari 2026 dapat dipertimbangkan kembali. Penyelenggaraan peringatan harlah tersebut masih dapat dilaksanakan pada kesempatan lain setelah tanggal tersebut. Hal yang terpenting saat ini adalah agar Jam’iyah dapat berjalan dengan baik, tertib, serta sesuai dengan kaidah berorganisasi yang baik.
Demikian pernyataan ini disampaikan. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa melimpahkan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita, serta meridhai seluruh ikhtiar untuk menjaga kemaslahatan Jam’iyah Nahdlatul Ulama dan bangsa yang dicintai.







