Sejarah Kopi: Ethiopia Negara yang pertama Menyebarkan Kopi ke Nusantara dan Dunia

Reporter : karjoko



Surabaya.jelajahpenanews.com  – Kopi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia modern—baik sebagai ritual pagi, teman bekerja, hingga bagian dari budaya dan bisnis global. Namun, kisah panjang kopi berawal dari satu tempat: pegunungan Ethiopia. Dari sana, ia menyebar ke jazirah Arab, Eropa, Asia, dan akhirnya ke Indonesia.


‎Legenda kopi dimulai di dataran tinggi Kaffa, Ethiopia, sekitar abad ke-9. Seorang penggembala kambing bernama Kaldi memperhatikan kambing-kambingnya menjadi lebih aktif dan bersemangat setelah memakan buah merah dari pohon tertentu. Ketika Kaldi mencobanya, ia juga merasakan energi yang luar biasa.


‎Seorang biarawan lokal kemudian menyeduh biji tersebut, menggunakannya sebagai penawar kantuk saat beribadah malam. Dari sinilah tradisi minum kopi mulai menyebar secara perlahan melalui jalur spiritual dan budaya.


‎Dari Afrika Utara, penyebaran biji kopi meluas ke Asia hingga pasar Eropa dan mulai dikenal sebagai salah satu minuman yang punya rasa enak dan nikmat.


‎Pada abad ke-15, kopi mulai dibudidayakan secara besar-besaran di Yaman, khususnya di kota pelabuhan Mocha. Kata “kopi” berasal dari bahasa Arab qahwa, yang awalnya merujuk pada minuman berenergi.


‎Minuman ini populer di kalangan sufi yang menggunakannya untuk tetap terjaga saat bermeditasi dan berzikir. Kopi kemudian menyebar ke seluruh Timur Tengah dan menjadi budaya tersendiri melalui kedai kopi, atau qahveh khaneh, yang pertama kali muncul di Mekah, lalu Kairo, Damaskus, dan akhirnya Konstantinopel (Istanbul)


‎Masuknya Kopi ke Eropa


‎Kopi memasuki Eropa pada abad ke-17 melalui pedagang Venesia. Awalnya dianggap “minuman setan” karena berasal dari dunia Muslim, namun setelah Paus Clement VIII mencicipinya dan menyatakan kopi sah untuk dikonsumsi, minuman ini segera populer di kalangan bangsawan hingga rakyat biasa.


‎Kedai kopi pertama di Eropa dibuka di Venesia (1645), lalu menyebar ke London (1652), Paris (1672), dan Wina (1683). Kedai kopi menjadi pusat diskusi ilmiah, sosial, hingga politik.


‎Sejarah perkembangan kopi


‎– 1720, kedai kopi Florian dibuka di Florence. Tahun 1723, Gabriel du Clieu membawa biji kopi dari Prancis ke Martinique. Pada tahun 1727, Francisco de Mello membawa biji kopi dari Perancis untuk ditanam di Brazil.


‎– 1730, Inggris menanam kopi di Jamaika. Kemudian di 1732, Johann Sebastian Bach membuat komposisi Coffee Cantata di Leipzig. Kopi Kantata ini menggambarkan perjalanan spiritual yang juga sebagai parodi atas ketakutan orang Jerman terhadap pesatnya popularitas kopi di Jerman. Pada 1777, Raja Jerman (Prussia) mengumumkan kritikan dan pelarangan terhadap kopi, dan mengumumkan bir sebagai minuman nasional Jerman Raya. 1790, Kedai kopi awal khas Inggris menghilang perlahan tergantikan oleh kedai bir (tavern).


‎Kemudian 1802, cafe sebagai kata yang menunjukkan tempat mulai diperkenalkan di Inggris (sebelumnya coffee house). Kata ini berasal dari kata Prancis “eafé” dan hampir seakar dengan bahasa Italia “caffe”. Café menunjukkan sebuah tempat yang merupakan restoran dengan menu utama minuman kopi.


‎Kopi impor dari Brazil pertama kali masuk pasar Amerika Serikat di Salem, Massachuset, pada 1809. Pada 1820, zat kafein dalam minuman kopi ditemukan berbarengan oleh tiga peneliti berbeda, dan tentunya masing-masing peneliti itu bekerja sendiri-sendiri, yaitu Runge, Robiquet, serta Pelletier dan Caventou. Saat 1822, prototip dari sebuah mesin kopi espresso dibuat di Perancis. Tahun 1839, kata “cafetaria” diperkenalkan sebagai kata hibrida (gabungan) dari Meksiko, Spanyol, dan Inggris. Tahun 1859, Michael Thonet’s Vienna Café chair No. 14 (bangku kedai kopi khusus) diperkenalkan pertama kali sebagai “bangku yang cocok digunakan sambil menghirup kopi”.


‎– 1869, coffee leaf rust (jamur kopi) pertama kali ditemukan di Ceylon dan tanaman kopi di Asia. Pada tahun 1873, kopi dalam kemasan secara massal diperkenalkan pertama kali di Amerika Serikat oleh John Arbukle. Kemudian tahun 1882, dibentuk The New York Coffee Exchange.


‎Pada 1869, menyebar suatu penyakit yang disebabkan oleh jamur di seluruh Asia sehingga menyebabkan kerusakan pada tanaman kopi jenis Coffea arabica yang waktu itu banyak ditanam di Asia. Hingga pada tahun ini, orang mulai menanam bermacam-macam jenis kopi yang banyak terdapat di daerah Congo


‎Sejarah Awal Kopi di Indonesia


‎Belanda membawa kopi ke Indonesia pada abad ke-17. Pada tahun 1696, Gubernur Jenderal Belanda, Joan van Hoorn, memerintahkan penanaman kopi di Batavia (sekarang Jakarta). Mereka menanam jenis kopi Arabica yang berasal dari Yaman.


‎Awalnya, upaya ini gagal karena hama dan bencana alam menghancurkan tanaman. Namun, pada awal 1700-an, Belanda berhasil membudidayakan kopi di Priangan, Jawa Barat. Kopi dari Jawa segera mendapatkan popularitas di pasar internasional. Orang-orang mulai mengenal kopi dari Indonesia sebagai Java Coffee, dan Belanda mengekspornya dalam jumlah besar.


‎Perkembangan Kopi di Masa Kolonial


‎Pada abad ke-18, Belanda menerapkan sistem tanam paksa (cultuurstelsel) yang mewajibkan petani menanam kopi sebagai tanaman wajib. Sistem ini membuat Indonesia menjadi salah satu pemasok kopi terbesar di dunia, tetapi juga menimbulkan penderitaan bagi rakyat.


‎Kopi dari Indonesia, terutama Jawa, Sumatera, dan Sulawesi, menjadi populer di Eropa. Bahkan, kata “java” dalam bahasa Inggris sering digunakan sebagai sinonim untuk kopi.


‎Era Kemerdekaan dan Modernisasi


‎Setelah merdeka pada tahun 1945, pemerintah Indonesia mengambil alih industri kopi. Pada tahun 1970-an, pemerintah meluncurkan program replanting untuk mengganti tanaman kopi yang sudah tua. Mereka juga mendorong petani menanam kopi Robusta, yang lebih tahan hama dan menghasilkan panen lebih besar.


‎Saat ini, Indonesia menjadi salah satu produsen kopi Robusta terbesar di dunia, sekaligus mempertahankan produksi kopi Arabica berkualitas tinggi.


‎Kopi Indonesia di Pasar Global


‎Kopi Indonesia, seperti Kopi Gayo, Toraja, dan Kintamani, telah mendapatkan pengakuan internasional. Kopi-kopi ini dikenal karena cita rasa yang unik, yang dipengaruhi oleh kondisi geografis dan metode pengolahan tradisional.


‎Indonesia juga menjadi tuan rumah berbagai kompetisi kopi internasional, seperti Indonesia Coffee Event dan Barista Championship, yang semakin memperkuat posisi Indonesia di peta kopi dunia.


‎– 1904, mesin espresso dibuat modern oleh Fernando Illy. Tahun 1906, Brazil menaikkan harga kopi setelah menciptakan harga (kurs) tetap untuk komoditas kopi. Kemudian tahun 1910, Jerman membuat kopi decaf (pengurangan zat kafein pada kopi seminimal mungkin) dan diperkenalkan ke Amerika Serikat dengan nama dekafa.Tahun 1911, pedagang kopi di Amerika Serikat membentuk Asosiasi Kopi Nasional.


‎– 1915, pyrex ditemukan. Pada mulanya, dipakai sebagai lampu penerangan terutama di perusahaan kereta api sebagai penutup lampu yang tahan panas dan cuaca ataupun benturan fisik. Pyrex mulai diperkenalkan sebagai alat dapur, sebagai pengganti kaca. Kedai kopi menggunakan pyrex sebagai gelas tahan panas.


‎– 1920, kedai kopi seketika terkenal di Amerika Serikat. Kemudian tahun 1925 Vienna Café chair No. 14 diikutkan dalam pameran L’esprit Nouveau di Prancis oleh Le Corbusier. Sampai tahun 1933, bangku model ini diproduksi lebih dari 50 juta bangku. Tahun 1927, mesin kopi espresso pertama kali diperkenalkan di Amerika Serikat. Kedai kopi pertama yang memakainya adalah La Pavoni di New York. Mesin ini didesain khusus oleh arsitek ternama Italia Gio Ponti. Tahun 1928, Federasi Kopi Kolombia dibentuk.


‎Dari 1930-1944, Brazil memusnahkan 78 juta kantong kopi untuk menstabilkan harga. Tahun 1938, Cremonesi membuat pompa piston yang dapat menyemprotkan air panas dengan kecepatan tinggi untuk menyeduh kopi. Pada tahun 1938, Nestle menemukan kopi instan di Brazil. Sampai saat ini, Nestle merupakan penghasil kopi instan terbesar di dunia. Kemudian tahun 1939-1945, pasukan Amerika Serikat membawa kopi instan dalam perang dan memperkenalkannya ke seluruh dunia.


‎–  1942, kopi menjadi barang yang disimpan secara sembunyi-sembunyi. Di Inggris pada masa itu, kopi dijatah pada jumlah tertentu. Kemudian tahun 1946, pabrik Gaggia memproduksi mesin cappucino secara komersial untuk pertama kali. Kata cappucino berasal dari warna jubah pendeta Cappucin (aliran Francisian 1529). Tahun 1948, Achille Gaggia menemukan mesin kopi espresso secara massal di Milan.


‎– 1952, mesin Gaggia diimpor ke Inggris. Pada tahun ini, kedai kopi setelah perang dunia kedua untuk pertama kali dibuka di London pada bulan Juli. Tahun 1953, Bar Espresso menyebar di seluruh Soho, kedai espresso pertama adalah Mocha di 29 Frith Street. Namun, pada tahun 1954, pembatasan kepemilikan sejumlah komoditas seperti kopi berakhir bersamaan dengan berakhirnya masa transisi perang dunia kedua.


‎– 1957, Catherine Uttley mendaftar ada 200 bar kopi di London. Mulai banyak bar kopi yang memakai plastik, mulai dari peralatan dapur, makan, lantai, sampai furnitur. Kemudian tahun 1960, jumlah bar kopi tercatat bertambah dua kali lipat dari 1.000 menjadi 2.000 di seluruh Inggris di mana London memiliki bar terbanyak, yaitu sekitar 500 buah.


‎– 1962 adalah puncak konsumsi kopi per kapita di Amerika Serikat, yaitu 3 cangkir per orang per hari. Tahun 1962, Perjanjian Internasional mengenai perdagangan kopi dibuat, bertujuan untuk mengontrol harga. Pada tahun 1964, popularitas bar kopi di Inggris mengalami penurunan, tergantikan oleh restoran dengan berbagai hidangan.


‎– 1970, Mocha Café tutup setelah dikomplain sinis oleh penulis Amerika Serikat William S. Burroughs. Tahun 1971, gerai Starbucks pertama dibuka di Seattle. Tahun 1973, Fair Trade Coffee pertama kali diimpor ke Eropa dari Guatemala.


‎– 1975, Brazil merugi karena gagal panen, harga kopi dunia meroket. Tahun 1989, Perjanjian Kopi Internasional tidak berhasil menstabilkan harga. Tercatat dalam sejarah perdagangan kopi, harga pasaran kopi turun ke tingkat yang paling rendah.


‎– 1990, beberapa kedai kopi tutup karena penataan ruang (redevelopment) di Inggris. Diperkenalkan kopi organik yang menjadi primadona di pasar kopi dunia. Tahun 1998, jumlah Starbucks mencapai 2.000 gerai di Amerika Serikat dan 5.715 gerai di seluruh dunia. Sementara di Indonesia telah dibuka sebanyak 11 gerai. Starbucks memposisikan diri sebagai kedai kopi dengan jaringan terbesar di seluruh dunia.


‎Penulis: Tim Literasi Global


‎Editor: Ramses


Bagikan