TERNYATA JENDERAL SOEDIRMAN MENOLAK PERINTAH PRESIDEN‼️

Reporter : Gombloh

Surabaya . jelajahpenanews.com – ” Saat Kesetiaan pada Bangsa Lebih Tinggi dari Keselamatan Diri “

Yogyakarta runtuh.
Pagi buta 19 Desember 1948, langit Ibu Kota Republik Indonesia diguncang dentuman bom Belanda. Agresi Militer Belanda II bukan sekadar serangan fisik, ia adalah upaya mematahkan nyawa Republik yang masih rapuh. Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta ditangkap. Pemerintahan sipil dilumpuhkan. Dunia seakan menyaksikan Republik Indonesia di ambang ajal.

Namun sejarah belum selesai ditulis.
Di tengah kekacauan itu, berdiri seorang Panglima Besar bernama Jenderal Soedirman. Tiga bulan lamanya ia terbaring lemah, paru-parunya digerogoti penyakit. Tubuhnya ringkih, napasnya tersengal. Tetapi jiwanya tegak seperti Merapi yang menolak runtuh.

PERTARUNGAN KEHENDAK DI ISTANA
Pagi itu, Jenderal Soedirman mendatangi Istana Yogyakarta. Ia datang bukan sebagai orang sakit yang mencari perlindungan, melainkan sebagai panglima yang menolak menyerah. Didampingi Kapten T.B. Simatupang dan dokter pribadinya, Soewondo, ia memasuki sidang kabinet dalam suasana tegang dan genting.

Presiden Soekarno, dengan kepedulian seorang pemimpin dan sahabat, memintanya mundur.
“Mas Dirman, Saudara sedang sakit. Pulanglah, beristirahatlah,” ujar Bung Karno.

Namun Jenderal Soedirman bergeming.
Baginya, beristirahat sementara rakyat dibombardir adalah pengkhianatan nurani. Baginya, meninggalkan kota sebelum bom pertama jatuh sama artinya dengan lari dari tanggung jawab sejarah. Ia menolak bersembunyi di balik tembok istana ketika pasukannya dan rakyatnya berdiri telanjang menghadapi moncong senjata penjajah.
Baru setelah bom Belanda menghujani Yogyakarta, dan demi alasan kemanusiaan, dokter Soewondo membujuknya untuk meninggalkan istana. Bukan untuk menyerah, melainkan untuk berperang dengan caranya sendiri.

PERINTAH KILAT DARI MANGKUBUMEN: Republik Masih Bernapas
Siang harinya, ketika kabar pendudukan Yogyakarta menyebar, Jenderal Soedirman mengirimkan pesan kilat yang kelak menjadi suluh perlawanan TNI:

“Perjuangan belum selesai. Tetap bertempur.”

Kalimat singkat itu adalah denyut jantung Republik.

Di kediamannya di Mangkubumen, seluruh dokumen penting dibakar, agar tidak jatuh ke tangan musuh. Dengan tubuh yang dibalut mantel hitam, ditandu oleh prajurit-prajurit setia, Panglima Besar meninggalkan kota. Langkah itu menandai dimulainya Perang Gerilya Semesta, sebuah strategi yang membuktikan kepada dunia bahwa Republik Indonesia tidak dapat ditangkap, tidak dapat dipenjara, dan tidak dapat dibunuh.
Perlawanan bersenjata pun menjadi pilihan terakhir dan paling jujur: menjaga kedaulatan dengan darah dan pengorbanan, ketika diplomasi tak lagi didengar.

Sebagaimana dicatat oleh T.B. Simatupang, pada momen itu:

“Kata telah diserahkan kepada kekerasan senjata yang dilambangkan oleh Pak Dirman.”

Jenderal Soedirman mengajarkan satu hal yang tak lekang oleh waktu, bahwa cinta tanah air bukan slogan, melainkan kesediaan untuk menderita demi bangsa.

Ia menolak perintah bukan karena pembangkangan, melainkan karena kesetiaan yang lebih tinggi kepada Republik, kepada rakyat, dan kepada sejarah Indonesia yang belum boleh tamat.

JenderalSoedirman #PanglimaBesar #AgresiMiliterBelandaII

PerangGerilya #SejarahIndonesia #Yogyakarta1948 #PahlawanBangsa

Bagikan