Surabaya . jelajahpenanews.com – Dalam berbagai kebudayaan lokal—Jawa, Sunda, Batak, Dayak, Toraja, Bali Aga, Bugis, hingga Papua—manusia Nusantara telah mengenal Yang Maha Tunggal, dengan berbagai sebutan:
Hyang, Sang Tunggal, Gusti, Ranying Hatalla, Ompu Mulajadi Na Bolon, Puang Matua, dan lain-lain.
Intinya sama:
ada satu sumber kehidupan tertinggi, dan manusia hidup untuk selaras dengan kehendak-Nya.
Kepercayaan vs Agama Formal
Kepercayaan terhadap Tuhan YME bukan agama dalam pengertian institusional:
✓ tidak selalu punya kitab suci baku
✓ tidak punya sistem dogma yang kaku
✓ tidak menekankan ritual formal seragam
Sebaliknya, kepercayaan menekankan:
✓ penghayatan batin
✓ laku hidup
✓ budi pekerti
✓ keselarasan rasa, pikiran, dan tindakan
Karena itulah negara kemudian mengklasifikasikannya sebagai ekspresi kebudayaan spiritual, bukan agama formal—meski secara esensi tetap bertuhan.
Dinamika Sejarah dan Politik
Pada masa Orde Baru, kepercayaan sering dipinggirkan. Melalui TAP MPR No. IV/1978, kepercayaan terhadap Tuhan YME ditempatkan di ranah kebudayaan, bukan agama.
Akibatnya:
✓ banyak penghayat dipaksa memilih agama formal di KTP
✓ praktik spiritual leluhur dianggap “tidak resmi”
✓ terjadi stigma sosial bertahun-tahun
Titik balik besar terjadi pada putusan Mahkamah Konstitusi tahun 2017, yang menegaskan:
Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan YME memiliki hak konstitusional yang sama dengan pemeluk agama.
Sejak itu, kolom “Kepercayaan terhadap Tuhan YME” sah dicantumkan di KTP.
Ragam Organisasi & Komunitas Penghayat
Berikut contoh organisasi/komunitas penghayat kepercayaan yang diakui dan tercatat dalam sejarah Indonesia, dengan ulasan ringkasnya:
- Paguyuban Ngesti Tunggal (Pangestu)
Fokus pada laku batin, kesadaran diri, dan hubungan pribadi dengan Tuhan. Berkembang luas sejak 1940-an. - Sapta Darma
Menekankan tujuh kewajiban suci manusia: kejujuran, kesucian batin, pengendalian nafsu, dan pengabdian kepada Tuhan. - Sumarah
Ajarannya berpusat pada sumarah (berserah diri sepenuhnya) melalui meditasi batin yang tenang dan sadar. - Kawruh Jiwa (Ki Ageng Suryomentaram)
Bukan organisasi ritual, melainkan ajaran kesadaran psikologis Jawa: mengenali rasa, keinginan, dan ego secara jujur. - Perjalanan
Komunitas spiritual yang menekankan pengalaman langsung bertemu Tuhan melalui laku batin dan refleksi hidup. - Hardapusara
Menitikberatkan kesempurnaan hidup melalui budi pekerti, keselarasan sosial, dan ketenangan batin. - Ilmu Sejati
Mengajarkan pengenalan diri sejati dan pengendalian nafsu duniawi sebagai jalan mendekat kepada Tuhan. - Subud (Susila Budhi Dharma)
Berkembang internasional, berakar dari pengalaman spiritual Jawa. Fokus pada latihan batin spontan (latihan kejiwaan). - Himpunan Penghayat Kepercayaan (HPK)
Wadah koordinasi berbagai aliran kepercayaan untuk advokasi hak sipil dan pelestarian nilai budaya spiritual. - AKUR Sunda (Adat Karuhun Urang)
Berbasis budaya Sunda, memuliakan ajaran karuhun (leluhur) dan keharmonisan alam-manusia-Tuhan. - Marapu (Sumba)
Kepercayaan asli Sumba yang menekankan keseimbangan antara dunia manusia, leluhur, dan Tuhan pencipta. - Kejawen (beragam paguyuban lokal)
Bukan satu organisasi tunggal, tetapi spektrum laku spiritual Jawa: semedi, olah rasa, sedulur papat limo pancer, dll.
Inti Ajaran Penghayat Kepercayaan
Meski beragam bentuk, hampir semua penghayat memiliki benang merah:
✓ percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa
✓ menekankan kesadaran batin
✓ hidup bermoral tanpa paksaan dogma
✓ spiritualitas diwujudkan dalam perilaku sehari-hari
Bagi penghayat, agama bukan identitas, melainkan cara hidup.
Penutup
Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah warisan batin Nusantara. Ia bukan pesaing agama, bukan pula bentuk pembangkangan spiritual.
Ia adalah pengingat bahwa: sebelum manusia sibuk menamai Tuhan, manusia Nusantara sudah lebih dulu merasakan-Nya.
Dan hari ini, ketika negara akhirnya mengakui keberadaannya, tantangannya bukan lagi soal legalitas— melainkan bagaimana kedewasaan batin bisa tumbuh tanpa saling merendahkan jalan orang lain.
🙏








