PENARIK BECAK YANG MENJADI KOMANDAN BATALYON TNI

Reporter : Gombloh

Surabaya . jelajahpenanews.com – Mayor Abdullah, yang awalnya hanya seorang penarik becak buta huruf, menorehkan jejak heroik dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia dan operasi militer pasca-revolusi. Latar belakangnya yang sederhana tidak menghalangi tekadnya untuk membela tanah air hingga berakhir di medan pertempuran.

Abdullah lahir di Gorontalo, kemudian dibesarkan oleh keluarga pelaut di Madura.
Selama masa pendudukan Jepang, dia bekerja sebagai tukang becak di Surabaya dan aktif dalam organisasi milisi Jibakutai, sebuah kelompok pemuda yang dilatih dasar-dasar militer.

Ketika Proklamasi Kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, Abdullah meninggalkan becaknya untuk berjuang. Menurut laporan, setiap anggota BKR (Badan Keamanan Rakyat) yang menaiki becaknya dibebaskan dari bayaran, sebagai bentuk dedikasi untuk negara.

Peran dalam Pertempuran 10 November 1945. Selama pertempuran Surabaya pada 10 November 1945, Abdullah memimpin pasukan yang disebut Badjak Laut.
Pasukannya terdiri dari pemuda “dari rakyat biasa”, dan Abdullah dikenal sebagai pemimpin yang menuntut loyalitas pada revolusi, bukan sekadar penghormatan pangkat.

KARIER MILITER DAN KOMANDO BATALYON
Setelah Surabaya, Abdullah terus berkarir di TNI. Ia belajar membaca dan menulis, serta menguasai bahasa Belanda dan Inggris. Kemudian, ia menjabat sebagai Komandan Batalyon XVII, Brigade I, Divisi I, dengan pangkat Mayor.

Salah satu misi militernya adalah menumpas Republik Maluku Selatan (RMS). Pada 9 September 1950, dua peleton di bawah komandonya mendarat di Kota Lafa dan terlibat baku tembak dengan pasukan RMS yang sebagian adalah mantan pasukan komando Belanda (Korps Speciale Troepen).

Dalam hujan tembakan yang sengit, pasukan TNI berhasil menembus sarang senapan mesin musuh. Namun, di tengah perjuangan tersebut, Mayor Abdullah tertembak dan gugur. Jenazahnya dikuburkan di Pulau Geser, dan karena jasanya sangat dihormati, warga setempat menolak pemindahan makamnya.

Keberanian Mayor Abdullah menunjukkan bagaimana semangat patriotik bisa muncul dari latar belakang manapun, bahkan dari tukang becak yang buta huruf. Dedikasi dan kepemimpinannya menjadi simbol bahwa revolusi bukan hanya milik para perwira terdidik, tetapi juga rakyat biasa yang siap berkorban demi kemerdekaan.

Sumber:

Tirto — Kisah Mayor Abdullah dari tukang becak hingga pejuang revolusi

Merdeka.com — Laporan tentang perjalanan militernya dan kematian dalam pertempuran RMS

iNews.id — Cerita latar belakang dan perjuangannya dalam perang kemerdekaan

Islampos — Profil pahlawan 10 November, Mayor Abdullah

sejarah #indonesia #cerita #foto #perang #informasi #update

Bagikan