BANJAR. Jelajahpenanews. Com – Dalam lembaran kelam abad ke-19, ketika Perang Banjar (1859–1863) berkecamuk melawan kolonial Hindia Belanda, nama Demang Lehman berdiri tegak sebagai simbol perlawanan tanpa kompromi. Lahir dengan nama Idham, ia tampil bukan hanya sebagai pejuang, melainkan sebagai panglima lapangan dan tangan kanan Pangeran Antasari dalam mengguncang fondasi kekuasaan kolonial di Kalimantan Selatan.
Demang Lehman dikenal luas sebagai perancang sejumlah serangan strategis terhadap pos dan benteng Belanda. Dengan mengandalkan jaringan gerilya yang terorganisasi rapi, ia menguasai medan pertempuran—dari pedalaman hingga pesisir. Salah satu operasi yang paling dikenang adalah perebutan Benteng Tabanio, yang saat itu dianggap sebagai pertahanan kuat kolonial. Keberhasilan tersebut menjadi pukulan serius terhadap moral dan wibawa militer Belanda.
Catatan sejarah menunjukkan, setelah rangkaian serangan tersebut, Belanda menempatkan Demang Lehman sebagai target utama. Upaya penangkapan secara terbuka berulang kali menemui kegagalan. Hingga akhirnya, melalui informasi dari seorang penghianat, lokasi persembunyian sang panglima terungkap.
Pada tahun 1864, di kawasan Gunung Raja, Demang Lehman ditangkap ketika berada dalam situasi yang tidak memungkinkan perlawanan bersenjata. Ia memilih tidak melawan demi menghindari pertumpahan darah di lokasi yang dianggap suci. Penangkapan itu menandai babak akhir perjuangan fisiknya.
Pengadilan kolonial kemudian menjatuhkan hukuman mati. Eksekusi dilaksanakan di Martapura pada 27 Februari 1864. Ia menjalani hukuman gantung dengan sikap tenang, sebagaimana disaksikan dalam berbagai penuturan sejarah lokal.
Kontroversi muncul setelah eksekusi. Kepala Demang Lehman dipisahkan dari jasadnya. Praktik ini, yang lazim dilakukan dalam konteks kolonial pada masa itu, diduga berkaitan dengan kepentingan penelitian anatomi maupun upaya simbolik untuk meredam pengaruh spiritual dan kharisma tokoh perlawanan. Sejumlah laporan sejarah dan pemberitaan menyebutkan bahwa bagian tubuh tersebut kemungkinan dibawa ke Belanda dan tersimpan dalam koleksi institusi di Leiden, meskipun hingga kini belum ada konfirmasi katalog publik yang sepenuhnya terbuka.
Sementara itu, tubuhnya dimakamkan di tanah Banjar tanpa kepala. Peristiwa tersebut meninggalkan jejak mendalam dalam ingatan kolektif masyarakat, melahirkan istilah yang dikenal sebagai “pahlawan tanpa kepala”.
Hingga saat ini, isu pelacakan dan repatriasi tengkorak Demang Lehman masih menjadi perhatian pemerintah daerah serta komunitas budaya Kalimantan Selatan. Upaya penelusuran arsip dan komunikasi dengan lembaga di Belanda terus dilakukan sebagai bagian dari langkah pemulihan sejarah.
Demang Lehman tetap dikenang sebagai salah satu figur sentral dalam Perang Banjar, seorang panglima gerilya yang berperan penting dalam mempertahankan martabat dan kedaulatan rakyat Banjar di tengah tekanan kolonial.








