Surabaya . jelajahpenanews.com – Dalam perjalanan karier militernya, Soeharto tak hanya ditempa oleh medan tempur, tetapi juga oleh dinamika hubungan komando yang keras dan penuh tekanan. Salah satu kisah yang kerap menjadi perbincangan adalah peristiwa di Makassar, ketika ia masih berpangkat Letnan Kolonel dan menjabat sebagai Komandan Brigade Mataram.
Saat itu, situasi keamanan di Makassar berada di bawah pengawasan Alexander Evert Kawilarang, Panglima Komando Tentara dan Teritorium VII/Indonesia Timur. Ia mendapat tugas langsung dari Soekarno untuk memastikan wilayah tersebut dalam kondisi aman.
Namun, ketegangan memuncak ketika sebuah radiogram mengungkap fakta berbeda pasukan Koninklijke Nederlands Indische Leger (KNIL) dilaporkan telah memasuki Makassar. Informasi ini bertolak belakang dengan laporan sebelumnya yang menyatakan situasi telah terkendali.
Mendengar hal itu, Kawilarang segera kembali ke Makassar dengan amarah yang tak terbendung. Setibanya di Lapangan Udara Mandai, ia langsung menegur keras Soeharto. Dalam beberapa versi cerita, bahkan disebutkan terjadi tindakan fisik berupa tamparan sebuah simbol kemarahan atas kelalaian yang dianggap fatal.
Namun, kisah ini tidak sepenuhnya tunggal. Dalam wawancara di kemudian hari, Kawilarang membantah pernah menampar Soeharto. Ia menegaskan bahwa dirinya hanya memberikan teguran keras sebagai atasan. Bahkan, versi lain menyebut bahwa justru Soeharto yang sempat menampar seorang perwira lain, Letnan Jenderal Parman, dalam konteks persoalan disiplin terkait dugaan penyelundupan kendaraan rampasan.
Perbedaan versi ini menjadikan peristiwa tersebut lebih dari sekadar insiden—ia berubah menjadi bagian dari legenda dalam sejarah militer Indonesia. Kisah ini diangkat dalam buku Soeharto and His Generals: Indonesian Military Politics 1975–1983 karya David Jenkins, yang mengupas dinamika internal militer pada masa itu.
Terlepas dari mana versi yang paling akurat, satu hal yang pasti: perjalanan Soeharto menuju puncak kekuasaan tidaklah mulus. Ia ditempa oleh kritik, tekanan, bahkan kontroversi semua menjadi bagian dari proses panjang yang membentuknya menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia.
Sumber : Viva.co.id








