Kenapa Dibutuhkan waktu berbulan-bulan bagi ABRI untuk menumpas “orang-orang terakhir” PKI di Blitar Selatan pada 1968?

Reporter : Gombloh

BLITAR SELATAN, 1968 . jelajahpenanews.com — Hutan lebat, bukit kapur, dan lorong-lorong gua yang nyaris tak terpetakan menjadikan wilayah ini lebih dari sekadar tempat persembunyian. Ia berubah menjadi benteng alam yang memperlambat langkah operasi militer. Tak heran, penumpasan “orang-orang terakhir” Partai Komunis Indonesia oleh Angkatan Bersenjata Republik Indonesia memakan waktu berbulan-bulan.
Operasi yang mencapai puncaknya dalam Operasi Trisula itu bukan sekadar pengejaran biasa. Ia adalah kombinasi dari perang medan sulit, jaringan bawah tanah, dan strategi bertahan hidup yang sudah disiapkan sejak lama.

Benteng Alam dan Persembunyian Terorganisasi.
Blitar Selatan bukan wilayah yang ramah bagi operasi militer konvensional. Topografinya didominasi perbukitan karst, hutan jati, serta gua-gua alami yang saling terhubung. Di sinilah sisa-sisa kader PKI bersembunyi, memanfaatkan celah sempit dan jalur rahasia yang sulit dijangkau pasukan reguler.
Tak sedikit di antara mereka yang telah menyiapkan logistik, jalur pelarian, hingga sistem komunikasi sederhana. Mereka tidak sekadar bersembunyi, mereka bertahan.

Sisa Kekuatan yang Tak Mudah Dilacak.
Pasca Gerakan 30 September 1965, banyak anggota PKI tercerai-berai. Namun di Blitar Selatan, sebagian berhasil mengonsolidasikan diri dalam kelompok kecil. Struktur mereka mungkin tak lagi utuh, tetapi cukup untuk melakukan perlawanan sporadis dan menghindari deteksi.
Model gerilya ini membuat pasukan ABRI harus menyisir wilayah secara perlahan, dari desa ke desa, dari gua ke gua, proses yang menguras waktu dan tenaga.

Operasi Besar, Medan Tak Bersahabat.
Pada 18 Mei 1968, Pangdam VIII/Brawijaya M. Yasin membentuk satuan tugas khusus. Di bawah komando Kolonel Witarmin, operasi melibatkan berbagai batalion infanteri, unsur teritorial, hingga pasukan elit seperti Resimen Para Komando Angkatan Darat.
Dari udara, kekuatan tambahan digerakkan. Atas perintah Komodor Udara Suwoto Sukendar, dibentuk Satgas Opsud Elang yang dipimpin Mayor Udara Sugiantoro. Pesawat seperti B-26 Invader dan P-51 Mustang diterjunkan untuk mendukung operasi darat, menandai skala serius dari pengejaran ini.

Perang Waktu dan Ketahanan.
Namun, kekuatan besar tak selalu berarti kemenangan cepat. Medan yang sulit membuat mobilisasi pasukan terbatas. Informasi intelijen sering kali tidak akurat atau terlambat. Sementara itu, kelompok-kelompok kecil PKI bergerak lincah, memanfaatkan pengetahuan lokal yang lebih baik.
Di sisi lain, faktor psikologis juga berperan. Operasi ini bukan hanya soal menemukan musuh, tetapi juga memastikan tidak ada lagi sisa-sisa yang dapat bangkit kembali.

Akhir yang Berlarut.
Operasi Trisula resmi dimulai 1 Juni 1968, namun penyisiran berlangsung berbulan-bulan. Satu per satu persembunyian ditemukan, satu per satu perlawanan dipatahkan. Tapi waktu yang dibutuhkan menjadi bukti bahwa ini bukan sekadar operasi militer, melainkan perburuan panjang di medan yang tak bersahabat.
Blitar Selatan, pada akhirnya, mencatat dirinya sebagai bab terakhir dari pengejaran sisa-sisa PKI pasca-1965. Sebuah operasi yang menunjukkan bahwa dalam perang, medan dan waktu bisa menjadi lawan yang sama beratnya dengan manusia.

Bagikan