Oleh: Temmy Wirawan Suryo Diwongso
Surabaya . jelajahpenanews.com – Bayangkan sebuah masa di mana matahari sulit menembus rimbunnya tajuk pohon jati yang menjulang puluhan meter. Di bawahnya, tanah kapur Blora yang tandus menyimpan aroma lembap dan jejak kaki predator yang gemar mengintai dalam sunyi. Kita sedang berada di Randublatung, tahun 1883. Sebuah wilayah yang kala itu lebih dikenal sebagai “neraka hijau” bagi para pendatang, namun menjadi “tambang emas” bagi pemerintah kolonial Belanda.
Alam yang Mengamuk: Teror Sang Loreng
Pada tahun itu, alam seolah sedang menuntut balas. Penebangan hutan jati yang masif oleh Belanda untuk keperluan rel kereta api dan ekspor kayu telah mengusik “penguasa asli” Randublatung: Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica).
Karena habitatnya menyempit, sang raja hutan masuk ke pemukiman. Bukan lagi sekadar mencuri ternak, mereka mulai memangsa manusia. Sebuah laporan dari surat kabar masa itu menggambarkan kengerian yang luar biasa: dalam waktu singkat, puluhan nyawa melayang. Desa-desa menjadi sunyi senyap, berubah menjadi kampung hantu karena penduduknya memilih bedol desa (pindah massal) daripada berakhir di perut binatang buas.
Keserakahan di Balik Seragam Priyayi
Namun, ancaman bukan hanya datang dari hutan. Di kantor-kantor distrik yang megah, musuh yang lebih licik sedang beraksi. Mereka adalah oknum Priyayi—pejabat pribumi yang menjadi tangan kanan Belanda.
Alih-alih melindungi rakyat yang ketakutan, sebagian dari mereka justru memanfaatkan kekacauan untuk memperkaya diri. Mereka terlibat dalam pencurian kayu jati (illegal logging) berskala besar. Ironinya, saat mereka membabat hutan secara ilegal untuk keuntungan pribadi, rakyat kecil yang hanya mengambil ranting kering untuk memasak justru ditangkap dan disiksa dengan dalih “melindungi aset negara”.
Bukti Otentik: Suara dari Masa Lalu
Kondisi ini terekam jelas dalam berita yang dimuat oleh surat kabar Bataviaasch Handelsblad edisi 25 Juni 1883. Berikut adalah petikannya:
Teks Asli (Bahasa Belanda):
“Uit Blora werd aan de Locomotief geschreven: De padi-oogst is in dit jaar niet voordeelig geweest; in enkele districten mislukte de aanplant zelfs totaal. Het tweede gewas (polowidjo) daarentegen slaagde uitstekend, zoodat vrees voor gebrek aan voedingsmiddelen niet bestaat.
Volgens geloofwaardige berichten houden de tijgers in het Randoeblatongsche verschrikkelijk huis; er moeten in een tijdsverloop van drie maanden een 40-tal menschen door die wouddieren zijn verslonden; er zijn kleine desa’s die geheel verlaten zijn, omdat de ingezetenen, door vrees bevangen, elders een goed heenkomen hebben gezocht.
Tijdens den vorigen Wedono, die sedert naar Bouwerno (Bodjonegoro) is overgeplaatst, hoorde men daar weinig van, omdat hij zeer dikwijls op de tijgerjacht ging en dan geregeld eenige dieren afmaakte; hij getroostte zich die moeite gaarne: dag of nacht, daar bekommerde hij zich niet om. In drie jaren tijds moet hij ongeveer tien tijgers geschoten hebben. Hoeveel de tegenwoordige er al heeft afgemaakt, weet men niet!
De djati-bosschen in de districten Panolan en Randoeblatong zijn op een schrikbarende wijze gehavend door houtdieven. Daarvoor zullen een paar prijaji’s ontslagen worden. Het districtshoofd van Panolan, die nog niet lang in functie was, heeft wegens ziekte eervol ontslag uit zijn betrekking gevraagd.”
Terjemahan :
”Dari Blora dituliskan kepada De Locomotief: Panen padi tahun ini tidak menguntungkan; di beberapa distrik penanaman bahkan gagal total. Sebaliknya, tanaman kedua (palawija) berhasil dengan sangat baik, sehingga tidak ada kekhawatiran akan kekurangan bahan pangan.
Menurut laporan yang dapat dipercaya, harimau-harimau di wilayah Randublatung sedang mengamuk; dalam kurun waktu tiga bulan, sekitar 40 orang dilaporkan telah diterkam oleh hewan liar tersebut; ada desa-desa kecil yang ditinggalkan sepenuhnya karena penduduknya, yang dicekam ketakutan, mencari tempat perlindungan yang lebih aman di tempat lain.
Pada masa Wedono sebelumnya, yang sejak saat itu telah dipindahkan ke Baureno (Bojonegoro), kabar seperti ini jarang terdengar karena ia sangat sering pergi berburu harimau dan secara rutin membasmi beberapa ekor; ia melakukan upaya tersebut dengan senang hati: siang atau malam, ia tidak peduli. Dalam waktu tiga tahun, ia diperkirakan telah menembak sekitar sepuluh ekor harimau. Berapa banyak yang telah dibasmi oleh pejabat yang sekarang, tidak ada yang tahu!
Hutan-hutan jati di distrik Panolan dan Randublatung rusak parah akibat para pencuri kayu. Terkait hal ini, beberapa priyayi (pejabat pribumi) akan diberhentikan. Kepala Distrik Panolan, yang belum lama menjabat, telah mengajukan pengunduran diri dengan hormat dari jabatannya karena alasan sakit.”
Benih Perlawanan: Lahirnya Sang Samin
Ketimpangan moral ini menciptakan luka yang mendalam. Rakyat melihat para priyayi bertindak layaknya “perampok berseragam” yang mengkhianati tanah airnya sendiri demi menyenangkan tuan Belanda.
Kekecewaan terhadap perilaku “priyayi bejad” inilah yang kemudian menyuburkan ajaran Samin Surosentiko. Muncul sebuah kesadaran kolektif: jika pemerintah dan pejabatnya sudah tidak memiliki moral (jujur), maka rakyat tidak perlu lagi tunduk pada aturannya.
Gerakan Samin lahir sebagai bentuk perlawanan tanpa senjata. Mereka melawan dengan kejujuran yang ekstrim, menolak membayar pajak, dan mengabaikan perintah para priyayi yang mereka anggap telah kehilangan mandat moralnya sebagai pemimpin. Bagi mereka, hutan adalah milik Tuhan, bukan milik pemerintah yang korup.
Penutup: Refleksi Sejarah
Randublatung tahun 1883 adalah cermin dari titik nadir hubungan antara penguasa dan rakyat. Harimau Jawa mungkin sudah punah, namun sejarah tentang bagaimana keserakahan pejabat (priyayi) dapat menghancurkan tatanan sosial dan memicu perlawanan rakyat akan selalu relevan. Saminisme bukan sekadar ajaran kebatinan, ia adalah teriakan nurani dari hutan jati yang terluka oleh korupsi.
Daftar Pustaka:
- Bataviaasch Handelsblad, edisi 25 Juni 1883. (Arsip Digital Delpher.nl).
- Benda, Harry J. & Castles, Lance. 1969. The Samin Movement. Modern Indonesia Project, Cornell University.
- Boomgaard, Peter. 2001. Frontiers of Fear: Tigers and People in the Malay World, 1600-1950. Yale University Press.
Salam Sejarah
Salam Jaga Budaya








