Dokter Jenius! Raih IPK 4,00 di FKUI, dr. Achmad Rafli Ciptakan AI untuk Sembuhkan Epilepsi Anak

Reporter : karjoko


‎Jakarta.. Jelajahpenanews .com – Sebuah kabar membanggakan datang dari kampus perjuangan, Universitas Indonesia. Dr. dr. Achmad Rafli, Sp.A., Subsp. Neuro. (K), sukses mengukir sejarah sebagai salah satu lulusan terbaik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) pada Februari 2026. Tidak tanggung-tanggung, ia meraih gelar Doktor dengan IPK sempurna 4,00 (Summa Cumlaude).


‎Namun, bukan sekadar angka di atas ijazah yang membuat pencapaiannya viral. Dr. Rafli berhasil menciptakan sebuah terobosan medis masa depan: penggunaan kecerdasan buatan (Machine Learning) untuk menyelamatkan anak-anak penderita epilepsi.


‎Inovasi “Machine Learning”: Harapan Baru Bagi Pasien Resisten Obat

‎Bagi banyak orang tua, menghadapi anak dengan epilepsi yang sudah tidak mempan lagi diberi obat (Epilepsi Resisten Obat) adalah perjuangan yang sangat berat. Kondisi ini seringkali membuat kualitas hidup anak menurun drastis.


‎Terdorong oleh dedikasi terhadap pasiennya di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), dr. Rafli memfokuskan risetnya pada pengembangan model Machine Learning. Teknologi AI ini mampu memprediksi keberhasilan tata laksana atau pengobatan pada anak secara jauh lebih akurat.


‎”Penelitian ini lahir dari setiap wajah pasien yang saya temui di rumah sakit. Saya ingin memberikan kepastian yang lebih baik bagi kesembuhan mereka melalui teknologi,” ujar dr. Rafli.


‎Selesaikan S3 Hanya dalam 4 Semester

‎Mendapatkan gelar Doktor di FKUI dikenal sangat menantang, namun dr. Rafli membuktikan bahwa kecerdasan yang dibarengi disiplin tinggi mampu menembus batas. Ia berhasil menyelesaikan seluruh studi doktoralnya hanya dalam waktu empat semester saja.


‎Selain AI, penelitiannya juga menghasilkan protokol MRI kepala terbaru. Protokol ini memungkinkan dokter saraf anak untuk melihat detail kelainan pada otak secara lebih tajam, sehingga tindakan medis yang diambil bisa lebih presisi dan efektif.


‎Keseimbangan Antara Praktik Medis dan Riset

‎Sehari-hari, dr. Rafli merupakan staf di Divisi Neurologi, Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM. Pencapaiannya membuktikan bahwa seorang dokter praktisi tetap bisa menjadi peneliti hebat di laboratorium.


‎Integrasi antara AI dan kedokteran yang ia bawa diharapkan menjadi standar baru dalam pengobatan epilepsi anak di Indonesia, sekaligus menempatkan nama Indonesia di peta inovasi kesehatan dunia.


Bagikan