Bisikan Terakhir Ibu Negara: Ketika Ibu Siti Hartinah Ingin Soeharto Berhenti

Reporter : Gombloh

Surabaya . jelajahpenanews.com – Di balik gemerlap kekuasaan Orde Baru, tersimpan kisah yang begitu manusiawi datang dari sosok yang selama ini setia mendampingi Presiden, Siti Hartinah.

Dalam sebuah acara Golkar tahun 1996, Ibu Tien duduk berdampingan dengan Mien Sugandhi. Di tengah suasana resmi, ia menyampaikan pesan yang mengejutkan sebuah bisikan jujur dari hati terdalam. Ia meminta agar disampaikan kepada salah satu petinggi Golkar bahwa Soeharto sebaiknya tidak lagi menjabat sebagai presiden.

Baginya, masa pengabdian itu sudah cukup. Usia yang tak lagi muda menjadi pertimbangan. Dengan nada tegas namun penuh keikhlasan, ia menyatakan keinginannya untuk “lungo” pergi, meninggalkan hiruk-pikuk kekuasaan.

Pesan itu sempat disampaikan, namun tak diindahkan. Tak lama kemudian, pada April 1996, Ibu Tien benar-benar “pergi” untuk selamanya. Dua tahun berselang, Maret 1998, Soeharto kembali terpilih sebagai presiden hingga akhirnya gelombang perubahan memaksanya mundur. Sebuah penyesalan pun tersisa: bagaimana jika pesan itu didengar lebih awal?

Namun, di balik ketegasan dan firasatnya, Ibu Tien juga dikenal sebagai sosok hangat dan penuh canda. Kisah lain datang dari Eddie M. Nalapraya, yang pernah mendampingi Soeharto memancing. Dengan nada bercanda, Ibu Tien berpesan agar tidak “memancing ikan yang rambutnya panjang” sebuah gurauan khas yang mencairkan suasana.

Kedekatan emosionalnya juga terasa dalam momen sederhana namun menyentuh. Saat Eddie melaporkan kenaikan pangkatnya, Ibu Tien dengan penuh perhatian mengelap bintang di pundaknya sebuah gestur kecil yang meninggalkan kesan mendalam dan tak terlupakan.

Kisah ini memperlihatkan bahwa di balik kekuasaan besar, terdapat suara hati yang tulus, firasat yang tajam, serta sentuhan kemanusiaan yang hangat. Sosok Siti Hartinah bukan hanya pendamping presiden, tetapi juga penjaga nurani dalam perjalanan panjang sejarah bangsa.
Sumber : Medium.com

IbuTien #Soeharto #SejarahIndonesia #OrdeBaru #KisahNyata #TokohBangsa #JejakSejarah

Bagikan