Surabaya . jelajahpenanews.com – Kenduren atau kenduri adalah tradisi syukuran dan doa bersama masyarakat Jawa (sering disebut slametan) yang berakar dari penghormatan leluhur, yang kemudian berkembang melalui sinkretisme budaya Kapitayan, Hindu-Buddha, hingga Islam. Tradisi ini diwujudkan dengan berkumpul bersama membawa tumpeng/makanan untuk didoakan sebagai rasa syukur dan permohonan keselamatan.
Sejarah dan Asal Usul Kenduren:
🌹Era Kapitayan (Pra-Hindu): Kenduri sudah ada sebelum Hindu masuk, sebagai wujud penghormatan kepada roh penjaga alam (sawah, hutan) dan permohonan keberkahan kepada Dewi Sri.
🌹Akulturasi Hindu-Buddha & Islam: Tradisi ini diakulturasi oleh Hindu-Buddha dengan struktur sesaji yang lebih kompleks. Sunan Ampel dan Bonang kemudian menyesuaikan tradisi ini dalam dakwah Islam, mengganti mantra dengan doa, dzikir, dan ayat suci, serta sesaji dengan makanan yang dibagikan (berkat).
🌹Pengaruh Persia: Beberapa pandangan menyebutkan kenduri berasal dari tradisi Persia (kanduri), yang diperkenalkan melalui muslim Kamboja (Campa) pada masa lalu, yang sering dilakukan untuk memperingati hari tertentu.
🌹Asal Kata: Berasal dari bahasa Persia “Kanduri” yang berarti upacara makan bersama.
Makna dan Tujuan Kenduren:
Syukur & Sedekah: Sebagai bentuk syukur atas nikmat (panen, kelahiran, pernikahan) serta berbagi makanan (berkat) dengan sesama.
🌹Solidaritas Sosial: Mempererat kebersamaan, persaudaraan, dan gotong royong warga desa.
Permohonan Keselamatan: Ritual untuk mencari ketenangan jiwa dan perlindungan dari hal negatif (slametan).
🌹Penghormatan Leluhur: Bentuk pelestarian tradisi yang diturunkan nenek moyang.
Kenduren dilakukan pada momen tertentu seperti kenduren wetonan (kelahiran), kematian, dan slametan desa, yang dipimpin oleh tokoh agama/adat setempat.
Semoga sedikit wawasan ini bermanfaat untuk menambah wawasan anda.
Dikutip dari:
Ilmu Kawruh Jawa.








