JAKARTA . jelajahpenanews.com — Di saat-saat paling genting dalam sejarah bangsa, ketika kekalahan Jepang telah menciptakan vacuum of power yang berbahaya, seorang perwira muda Pembela Tanah Air (PETA) menjadi kunci penentu. Shodanco Singgih, komandan kompi PETA, terpilih memimpin sebuah aksi rahasia dan berani mati yang kemudian dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.
Operasi ‘Penyelamatan’ Pukul 03.00 WIB
Ketegangan mencapai puncaknya setelah pertemuan alot antara Golongan Muda (dipimpin Sukarni, Wikana, dan Chaerul Saleh) dengan Golongan Tua (Soekarno dan Hatta) pada malam 15 Agustus. Golongan Tua bersikukuh menolak proklamasi tergesa-gesa, khawatir akan pertumpahan darah dan campur tangan PPKI yang berbau Jepang.
Menanggapi kebuntuan ini, para pemuda di Jalan Cikini 71 memutuskan langkah drastis: menyingkirkan dwitunggal pemimpin bangsa keluar dari jangkauan dan pengaruh militer Jepang. Untuk melaksanakan misi yang sangat berisiko ini, mereka membutuhkan dukungan militer dan Singgih, sebagai shodanco (komandan kompi) PETA yang memihak perjuangan murni, adalah jawabannya.
Pukul 03.00 WIB, fajar masih jauh di ufuk timur, Shodanco Singgih memimpin tim kecil, termasuk Yusuf Kunto dan Dr. Muwardi. Dengan memanfaatkan fasilitas PETA, termasuk mobil sedan yang dipinjamkan dari Markas PETA di Jaga Monyet (berkat bantuan Latief Hendraningrat), rombongan itu bergerak menuju kediaman Bung Karno di Pegangsaan Timur 56 dan kediaman Bung Hatta.
Ancaman di Setiap Jengkal Perjalanan
Tindakan ini sejatinya adalah pembelotan militer terhadap atasan mereka, tentara Jepang. Singgih mempertaruhkan nyawa dan seluruh pasukan PETA jika operasi ini tercium.
DETAIL PENGORBANAN DI LAPANGAN:
Singgih bertanggung jawab penuh atas keamanan fisik Soekarno, Hatta, beserta Nyonya Fatmawati, dan putra mereka Guntur (yang saat itu masih bayi).
Dengan seragam PETA dan pangkatnya, Singgih harus bernegosiasi dan mengelabui pos-pos penjagaan Jepang di sepanjang jalur Jakarta menuju Karawang. Setiap pemeriksaan adalah momen penentuan hidup atau mati. Ia harus meyakinkan Jepang bahwa ia sedang menjalankan misi rahasia PETA yang sangat mendesak.
Rengasdengklok dipilih karena merupakan markas PETA yang kuat, terisolir, dan jauh dari pusat kota Jakarta yang penuh mata-mata Jepang.
Desakan Penentu di Rengasdengklok
Di Rengasdengklok, Soekarno dan Hatta ditempatkan di rumah seorang warga keturunan Tionghoa, Djiauw Kie Siong. Walau sudah “diamankan”, Soekarno tetap kukuh pada pendiriannya.
Di titik inilah, Shodanco Singgih kembali melancarkan serangan terakhirnya: serangan psikologis.
Menurut kesaksian sejarah, Singgih secara personal mendesak Bung Karno, menggunakan bahasa yang tegas dan lugas, mewakili kegelisahan rakyat dan pemuda di Jakarta:
“Pak! Rakyat dan pemuda sudah tak sabar lagi. Kalau tidak [Proklamasi] akan terjadi pertumpahan darah sebelum tengah hari! Kami sudah siap melawan Jepang, tapi jangan korbankan rakyat sipil dengan menunda kesempatan emas ini!”
Desakan dari seorang perwira militer yang siap mati di lapangan, yang telah membuktikan keseriusannya dengan membawa sang pemimpin keluar kota, akhirnya meluluhkan hati Soekarno. Ia setuju.
Kembali Menuju Fajar Kemerdekaan
Pada pukul 18.00 WIB, setelah Achmad Soebardjo tiba di Rengasdengklok dan menjamin Proklamasi akan dilaksanakan pada 17 Agustus 1945, Shodanco Singgih memimpin rombongan kembali ke Jakarta.
Peran Singgih sebagai komandan lapangan Peristiwa Rengasdengklok adalah pengorbanan dramatis: Ia mempertaruhkan pangkat, kehormatan, dan nyawa untuk memastikan sang Proklamator tidak gentar. Tanpa keberanian dan jaminan keamanannya, perundingan yang menentukan nasib bangsa mungkin tidak akan pernah terjadi, dan Proklamasi Kemerdekaan bisa jadi tertunda atau jatuh ke tangan musuh.
Sumber Utama Berita
Sejarah Nasional Indonesia (Edisi Kesejarahan): Menjelaskan peran PETA dan pemuda dalam Peristiwa Rengasdengklok.
Kesaksian Tokoh Sejarah (Lisan/Tulis): Mengenai detail penjemputan dan dialog antara Shodanco Singgih dan Ir. Soekarno.
.








