Jakarta. Jelajahpenanews. Com – Tanggal 14 September 2026. Pukul 15.59 WIB.
Pagi masih rapat di DPD. Sore tiba-tiba kursi kosong. Purbaya dicopot. Bukan karena gagal. Tapi misinya sudah selesai. Untuk memahami ini, mari kita lihat 3 bidak yang bergerak bersamaan:
Bidak 1: Rekening Rakyat.
Pemerintah mau tembak langsung. Bansos dan Perlinsos “by name by address”. Kali ini tanpa perantara. Dan pastinya, harus tanpa kebocoran.
Pertanyaan klasik: Dananya dari mana? Sudah sering saya ulas. Dari brankas sendiri. Bukan pinjaman IMF. Bukan juga utang World Bank.
Ini bukan lagi ekonomi. Ini operasi bedah sistem. Langsung ke urat nadi rakyat.
Bidak 2: Dewan Ekonomi Nasional
Ketua DEN Luhut Binsar Panjaitan sudah beri komando: Bansos jalan Oktober. Artinya dana triliunan akan digelontorkan kepada rakyat saat ekonomi global sedang goyang. Ini bukan bansos. Ini peluru kendali daya beli.
Bidak 3: Meja BRICS.
2 hari lalu, Presiden Prabowo Subianto duduk bersama dengan Xi, Putin, Modi. Di atas meja: New Development Bank (NDB). Sebuah senjata baru yang akan menggeser IMF dan World Bank dari papan catur dunia.
Nah, di titik inilah potensi “ancaman asimetris” sangat mungkin akan datang. Selama puluhan tahun, dalam percaturan geoekonomi, IMF dan World Bank adalah wasit sekaligus pemain. Setiap negara yang berani kasih duit langsung kepada rakyat dari brankasnya sendiri, pasti diberi cap “tidak prudent”. Assessment yang tidak bagus bisa memicu modal kabur dan mata uang diserang.
Lalu siapa yang ditunjuk Prabowo?
Suahasil Nazara. 7 tahun menjabat Wakil Menteri Keuangan dan pernah jadi Kepala Badan Kebijakan Fiskal.
Ini bukan kebetulan. Ini penempatan ahli strategi sebagai kontra intelijen dari perang asimetris fiskal global.
Suahasil yang selama ini duduk di meja perundingan dengan IMF, S&P, Moody’s dan bankir global. Dia hafal jurus mereka. Hafal titik lemah rating. Hafal bahasa mereka.
Serangan asimetris itu mulai terasa. Seperti sebuah orkestrasi, para proxy Rezim Bankir Barat, Prabowo menyebutnya Londo Ireng, mulai menyerang program “rekening untuk rakyat”.
Tugas Suahasil bukan membongkar brankas. Tugasnya menjaga brankas, lalu berdiri di depan pintu sambil bilang kepada dunia: “Program ini aman. Program ini dari brankas kita sendiri. Negara ini kredibel.”
Sri Mulyani membuat peta. Purbaya telah membuka jalan. Dan Suahasil yang akan mengamankannya.
Karena perang selanjutnya bukan di medan perang. Tapi di laporan neraca, di rating S&P, dan di meja NDB.
Selamat datang di pertempuran baru menuju tatanan baru. Suahasil harus berhasil, sebagai petugas penjaga brankas.
Semoga sesuai dengan namanya: Suahasil, yaitu Swasembada Fiskal dari Hasil Brankas Sendiri 🇮🇩
FAZ








