Sampai Ditolak Masuk Negara Lain & Patungnya Dibakar, Ini Sosok Pemberani Asal Bogor yang Ditakuti Korea Utara hingga Sri Lanka

Red JPN

Jakarta. Jelajahpenanews. Com – Di panggung diplomasi internasional, tidak banyak tokoh yang berani berdiri tegak menghadapi tekanan dari rezim-rezim paling tertutup dan ditakuti di dunia. Namun, Indonesia memiliki satu nama yang jika disebut di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), akan membuat dahi para diktator berkerut.

Ia adalah Marzuki Darusman, S.H., seorang pria kelahiran Bogor, 26 Januari 1945, yang rekam jejaknya sukses mengguncang dunia hukum internasional.

Bagi generasi 90-an, nama Marzuki mungkin lekat dengan jabatannya sebagai Jaksa Agung RI (1999–2001) di era Presiden Gus Dur. Kala itu, ia adalah sosok nyali besar yang memenjarakan koruptor kelas kakap seperti Bob Hasan, membatasi ruang gerak mantan Presiden Soeharto, hingga menyeret jenderal militer ke pengadilan atas kasus pelanggaran HAM di Timor Timur dan Aceh. Karena keberaniannya, ia sempat menjadi orang nomor tiga yang paling dijaga ketat di Indonesia.

Namun, siapa sangka, “singa hukum” asal Bogor ini justru semakin mengaum keras ketika ia mulai berkarier di luar negeri sebagai ujung tombak PBB.

Dibakar dalam Bentuk Patung di Sri Lanka
Pada tahun 2010, Sekretaris Jenderal PBB menunjuk Marzuki untuk memimpin Panel Ahli guna menyelidiki dugaan kejahatan perang dalam Perang Saudara Sri Lanka.

Hasil investigasi Marzuki begitu tajam dan blak-blakan. Ia membongkar bukti-bukti pelanggaran kemanusiaan yang dilakukan oleh pemerintah setempat. Laporan tersebut mengguncang negara pulau itu hingga memicu kemarahan besar dari simpatisan pemerintah Sri Lanka.

Dampaknya luar biasa: Marzuki secara resmi dilarang masuk ke Sri Lanka, dan di jalanan kota Colombo, para demonstran membakar patung dirinya sebagai bentuk protes. Bukannya gentar, Marzuki tetap bergeming pada kebenaran laporan yang dibuatnya.

Membuat Delegasi Korea Utara Mengamuk dan Walk-Out
Keberanian Marzuki kembali diuji saat ia ditunjuk menjadi Pelapor Khusus PBB untuk Hak Asasi Manusia di Korea Utara (2010–2016). Menghadapi rezim paling tertutup di bumi bukan perkara mudah.

Marzuki dengan lantang menyebut Korea Utara sebagai satu-satunya negara di dunia yang merasa bahwa menolak bekerja sama dengan mekanisme HAM adalah hal yang wajar. Ketika Marzuki membacakan laporan pelanggaran HAM rezim Pyongyang pada Maret 2012, atmosfer ruangan mendadak panas.

Delegasi Korea Utara yang dipimpin So Se-pyong mengamuk, menyebut laporan putra Bogor itu sebagai “interpretasi tidak berguna,” lalu melakukan aksi walk-out (keluar dari ruangan) yang berujung pada keributan fisik antar-delegasi. Marzuki? Ia tetap duduk tenang, tak gentar sedikit pun oleh intimidasi negara nuklir tersebut.

Warisan yang Tak Pernah Padam
Tidak hanya Sri Lanka dan Korea Utara, Marzuki juga menjadi ketua tim PBB yang membongkar genosida terhadap etnis Rohingya di Myanmar pada tahun 2017, serta menyelidiki kasus pembunuhan Perdana Menteri Pakistan, Benazir Bhutto.

Lahir dari ayah seorang diplomat (Suryono Darusman) dan merupakan kakak kandung dari musisi legendaris Candra Darusman, Marzuki menghabiskan masa kecilnya di Eropa. Pengalaman melihat dunia luar sejak kecil justru membuatnya gerah melihat ketimpangan sosial dan ketidakadilan yang ada di tanah air dan dunia.

Kini, melalui lembaga yang ia dirikan seperti The Foundation for International Human Rights Reporting Standards (FIHRRST), Marzuki terus menularkan keberaniannya kepada generasi muda. Ia adalah bukti nyata bahwa Indonesia tidak pernah kekurangan orang berani yang disegani dunia.

Sumber: Wikipedia

MarzukiDarusman #TokohIndonesia #BanggaIndonesia #PahlawanHAM #BeritaViral #InspirasiOrangKita #JaksaAgungGusDur #DuniaInternasional #KisahNyata #TokohPBB

Bagikan