Bikin Sekolah Sendiri Karena Gak Ketemu SMA yang Bagus! Kisah Masa Muda Kwik Kian Gie Ini Jarang Diketahui Orang

Red JPN

Jakarta. Jelajahpenanews. Com – Bagi generasi hari ini, nama Kwik Kian Gie mungkin identik dengan sosok menteri yang galak, ekonom senior yang doyan mengkritik pemerintah, atau salah satu politikus paling berintegritas yang pernah dimiliki Indonesia. Tapi, pernahkah Anda membayangkan bagaimana masa muda seorang Kwik Kian Gie?

Siapa sangka, di balik penampilannya yang selalu rapi dan konservatif, Kwik muda adalah seorang remaja yang nekat, visioner, dan punya nyali luar biasa. Salah satu cerita paling gila dalam hidupnya adalah ketika ia mendirikan sekolah SMA-nya sendiri hanya karena tidak menemukan sekolah yang dianggapnya cukup bagus.

Bagaimana cerita lengkapnya? Yuk, kita mundurkan waktu ke tahun 1950-an.

Jadi “Buronan” Jepang dan Pengungsian yang Mengubah Hidup
Lahir di Pati, Jawa Tengah, pada tahun 1935, masa kecil Kwik Kian Gie sebenarnya jauh dari kata tenang. Saat Jepang menjajah Indonesia pada tahun 1942, ayah Kwik ditangkap oleh militer Jepang. Pabrik tekstil milik keluarganya disita habis.

Dalam kondisi mencekam itu, sang ibu terpaksa membawa Kwik dan saudara-saudaranya melarikan diri ke Semarang untuk bertahan hidup. Di Semarang, Kwik kecil harus berpindah-pindah sekolah dasar hingga tiga kali. Pengalaman pahit masa perang inilah yang justru menempa mental Kwik menjadi pribadi yang mandiri dan tidak cengeng.

Pindah ke Surabaya dan Menjabat Ketua Pelajar se-Jawa
Setamat SMP di Semarang, bakat kepemimpinan Kwik mulai menonjol. Menginjak usia SMA, ia terpilih menjadi Ketua Pusat Perhimpunan Pelajar Sekolah Menengah Indonesia. Tanggung jawabnya tidak main-main: ia membawahi 13 cabang organisasi pelajar di seluruh Pulau Jawa!

Karena urusan organisasi yang berpusat di Jawa Timur, Kwik terpaksa harus pindah dari Semarang ke Surabaya saat naik ke kelas tiga SMA. Di sinilah masalah besar itu muncul.

“Kalau Gak Ada Sekolah yang Bagus, Ya Bikin Sendiri!”
Sebagai remaja yang haus akan ilmu, Kwik mencari sekolah SMA di Surabaya yang punya standar kualitas tinggi. Namun, setelah berputar-putar, ia merasa tidak ada satu pun SMA saat itu yang memenuhi standarnya. Bagi remaja biasa, pilihannya mungkin adalah pasrah dan masuk ke sekolah yang ada. Tapi tidak bagi Kwik Kian Gie.

Dengan modal nekat dan jaringan yang dimilikinya, Kwik menemui dua orang kaya di Surabaya. Ia memaparkan idenya untuk mendirikan sebuah sekolah baru. Terpikat dengan visi dan kecerdasan remaja ini, kedua donatur tersebut akhirnya setuju mendanai proyek nekat Kwik.

Maka berdirilah SMA Erlangga Surabaya. Kwik Kian Gie, yang saat itu statusnya masih seorang murid, bertindak sebagai pendiri sekaligus pengelola sekolah tersebut!

Strategi Kwik dalam mengelola sekolah ini terbilang sangat modern di zamannya:

Buru Guru Terbaik: Ia mencari guru-guru paling hebat di Surabaya.

Gaji Dua Kali Lipat: Agar para guru tersebut mau mengajar totalitas, Kwik berani menggaji mereka dua kali lipat dari standar sekolah lain.

Hasil yang Genius: Kwik menjadi murid di sekolah yang ia dirikan sendiri. Hasilnya? Pada ujian nasional tahun 1955, SMA Erlangga mencetak rekor kelulusan hingga 98%, dan Kwik lulus dengan hasil gemilang.

Dari Sekolah Buatan Sendiri Menuju Rotterdam
Keberanian di masa SMA itu menjadi cetak biru bagi masa depan Kwik. Setelah lulus, ia sempat kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Namun, karena saat itu materi kuliah banyak menggunakan bahasa Belanda—bahasa yang tidak ia kuasai—Kwik tidak gengsi untuk mengaku menyerah. Ia pindah ke Fakultas Ekonomi.

Hanya bertahan enam bulan di UI, kecerdasannya membawa Kwik terbang ke Belanda pada Juli 1956. Ia diterima di Nederlandsche Economische Hogeschool di Rotterdam (sekarang Erasmus Universiteit), salah satu kampus ekonomi paling bergengsi di dunia.

Di sanalah ia mematangkan ilmu ekonominya, sebelum akhirnya pulang ke Indonesia untuk mendirikan Institut Bisnis dan Informatika Indonesia (IBII) dan menjadi Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri di era Presiden Gus Dur.

Pelajaran Hidup dari Sang “Bapak Ekonomi Kerakyatan”
Kisah Kwik Kian Gie mendirikan SMA Erlangga mengajarkan kita satu hal: jangan pernah menunggu perubahan jika kita bisa memulainya sendiri. Jika fasilitas yang ada tidak mendukungmu untuk maju, ciptakan fasilitas itu.

Kwik Kian Gie telah berpulang pada 28 Juli 2025 lalu dalam usia 90 tahun. Namun, cerita tentang remaja nekat yang mendirikan sekolahnya sendiri ini akan selalu menjadi inspirasi bahwa batasan itu hanya ada di dalam pikiran kita.

Bagikan kisah inspiratif ini ke teman-temanmu agar makin banyak anak muda yang punya nyali besar seperti Pak Kwik!

Sumber: Wikipedia

KwikKianGie #InspirasiMasaMuda #TokohBangsa #BapakEkonomiKerakyatan #SejarahIndonesia #KisahInspiratif #SturnusErlangga

Bagikan