Jakarta. Jelajahpenanews. Com – Nama Budiman Sudjatmiko telah lama terpatri dalam lembaran sejarah modern Indonesia sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap rezim otoriter Orde Baru. Mantan tahanan politik yang pernah divonis belasan tahun penjara ini adalah sosok di balik lahirnya Partai Rakyat Demokratik (PRD), aktor penting di balik penyusunan Undang-Undang Desa yang visioner, sekaligus pendiri Gerakan Inovator 4.0.
Namun, jauh sebelum ia dikenal sebagai pemikir ulung dan politikus lintas zaman, jalan hidup seorang Budiman dibentuk oleh sebuah tragedi kemanusiaan di masa kecilnya yang mengubah cara pandangnya terhadap dunia selamanya.
Tragedi Pengasuh dan Gugatan Terhadap Kemiskinan
Lahir pada 10 Maret 1970, Budiman merupakan anak sulung dari empat bersaudara dari pasangan Wartono Sudjatmiko dan Sri Sulastri Sudjatmiko. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang taat memegang nilai-nilai keagamaan. Masa kecilnya dihabiskan dengan berpindah kota, mulai dari menempuh pendidikan dasar di SD Negeri Pengadilan 2 Bogor, lalu SMP Negeri 1 Cilacap, hingga mengenyam bangku SMA di Bogor dan SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta.
Kepekaan sosial Budiman tidak lahir dari buku-buku teori marxisme atau sosiologi, melainkan dari realitas pahit di depan matanya sendiri saat masih anak-anak.
“Kesadaran kritis Budiman pertama kali terusik ketika ia mendapati pengasuh masa kecilnya nekat mengakhiri hidup akibat frustrasi terjerat utang. Peristiwa tragis itu membekas sangat dalam, memicu pertanyaan besar di kepala Budiman kecil tentang mengapa kemiskinan begitu kejam menjerat rakyat kecil.”
Memilih Jalan Jalanan: Dari UGM hingga Kudatuli
Memasuki gerbang perguruan tinggi di Universitas Gadjah Mada (UGM), idealisme Budiman kian membara. Alih-alih fokus mengejar gelar sarjana demi kenyamanan pribadi, ia justru memilih menenggelamkan diri dalam dunia aktivisme pergerakan. Akibatnya, ia terpaksa melepaskan status akademisnya karena dikeluarkan (drop out) dari kampus.
Pada pertengahan tahun 1990-an, ia mendirikan sekaligus memimpin Partai Rakyat Demokratik (PRD), sebuah wadah politik progresif anak muda yang berani menantang langsung hegemoni kekuasaan saat itu. Keberaniannya memuncak ketika ia dengan lantang membacakan manifesto PRD di ruang sidang yang penuh tekanan.
Imbas dari perlawanan radikal tersebut, Budiman dikambinghitamkan oleh rezim penguasa dalam Peristiwa 27 Juli 1996 (Kudatuli)—sebuah insiden berdarah penyerbuan kantor Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Pimpinan PRD ini dituduh sebagai dalang kerusuhan dan dijatuhi vonis hukuman 13 tahun penjara. Namun, seiring bergulirnya angin Reformasi 1998, ia dibebaskan lebih cepat setelah menjalani masa tahanan selama tiga setengah tahun.
Balas Dendam Akademis di Tanah Inggris
Kehilangan masa kuliah di UGM dibayarnya tuntas pasca-bebas dari jeruji besi. Budiman melakukan “balas dendam akademis” yang sangat elegan langsung di jantung pendidikan dunia.
Meninggalkan Jeruji Besi
Pasca-Reformasi
Mendapatkan kebebasan menyusul runtuhnya rezim Orde Baru, Budiman langsung menatap peluang melanjutkan pendidikan yang sempat terputus akibat aktivisme.
University of London
S1 Ilmu Politik
Memulai lembaran baru di Inggris dengan mengambil kuliah sarjana Hubungan Internasional dan Ilmu Politik di Universitas London.
University of Cambridge
M.Phil
Menuntaskan dahaga intelektualnya dengan meraih gelar Master (M.Phil) di bidang Hubungan Internasional dari salah satu universitas paling prestisius di dunia, Universitas Cambridge.
Warisan Literasi dan Visi Masa Depan
Perjalanan spiritual dan pergolakan batinnya selama masa-masa pergerakan itu ia tuangkan secara apik dalam buku otobiografinya yang monumental, Anak-Anak Revolusi. Buku ini kini menjadi salah satu rujukan utama dan sumber informasi paling otentik untuk memotret potret dunia aktivisme bawah tanah pada masa Orde Baru.
Kini, sosok Budiman Sudjatmiko tidak lagi dikenal sekadar sebagai orator jalanan yang meneriakkan yel-yel revolusi. Ia telah bertransformasi menjadi seorang pemikir taktis yang menjembatani isu-isu kerakyatan—lewat cetusan UU Desa—dengan masa depan teknologi melalui gerakan Inovator 4.0. Langkah hidupnya membuktikan bahwa revolusi sejati tidak hanya berhenti di jalanan, melainkan harus dirawat lewat ilmu pengetahuan dan regulasi yang berpihak pada rakyat.
Sumber: Wikipedia








