Jakarta. Jelajahpenanews. Com -Secara keseluruhan, rupiah memiliki tren jangka panjang yang cenderung melemah, namun kecepatan dan penyebabnya berbeda-beda di setiap masa, tergantung kebijakan dalam negeri dan kemampuan menghadapi guncangan luar.
Pada era Soekarno, awalnya rupiah sangat kuat di kisaran Rp 1,8–3,8 per dolar AS. Namun akibat biaya perang, inflasi tinggi, dan pencetakan uang berlebihan, nilainya anjlok hingga Rp 310 per dolar di akhir masa jabatan.
Di masa Soeharto, rupiah sangat stabil puluhan tahun di kisaran Rp 378–415 per dolar dengan pertumbuhan ekonomi tinggi. Sayangnya, ketergantungan utang luar negeri dan sistem nilai tukar yang kaku membuatnya runtuh saat krisis 1997, jatuh drastis ke Rp 16.800 per dolar.
Era B.J. Habibie dimulai dari posisi terpuruk Rp 14.000–16.000 per dolar. Berkat kebijakan tegas dan perbaikan sistem keuangan, rupiah pulih tajam menjadi Rp 6.500–7.000 per dolar.
Masa kepemimpinan Gus Dur, rupiah bergerak di kisaran Rp 7.000–9.000 per dolar. Nilai ini terjaga namun sering berfluktuasi akibat ketidakpastian politik dan perubahan kebijakan yang sering terjadi.
Di bawah Megawati, rupiah bergerak stabil di kisaran Rp 8.400–9.100 per dolar. Meski beban utang masih berat, pengelolaan fiskal dan moneter makin rapi serta cadangan devisa mulai terbangun kembali.
Era SBY dimulai dari angka Rp 9.085 dan berakhir di Rp 12.030 per dolar. Meski sempat tertekan krisis global 2008, pelemahannya berjalan terkontrol dan ketahanan ekonomi makin teruji.
Selama pemerintahan Joko Widodo, rupiah melemah dari Rp 12.030 menjadi menyentuh Rp 16.550 per dolar. Tekanan datang dari kenaikan suku bunga AS, pandemi, dan ketegangan geopolitik, sehingga nilainya tak pernah kembali di bawah angka Rp 10.000.
Di era Prabowo hingga kini, rupiah bergerak di kisaran Rp 16.400–17.700 per dolar. Tantangan utamanya adalah ketidakpastian ekonomi dunia dan kebijakan Amerika Serikat yang terus menekan nilai tukar.
Just Info ✍️NITE..








