PEMILIK PABRIK INI MENGGANTI NAMA PERUSAHAANNYA HANYA KARENA SEBUAH MIMPI DI DEKAT MAKAM DAN KEPUTUSAN ANEH ITU MENGUBAHNYA MENJADI RAJA ROKOK INDONESIA

Red JPN

Malang. Jelajahpenanews. Com – Tahun 1954. Seorang pengusaha asal Bojonegoro yang sudah lama menetap di Malang sedang berziarah ke makam keramat Mbah Djugo di kawasan Gunung Kawi, Jawa Timur. Di sela ziarahnya, ia tertidur di dekat makam.

Dan dalam tidurnya, ia bermimpi melihat ubi talas.

Mimpi itu mungkin terdengar sederhana. Tapi bagi Ong Hok Liong, itu bukan mimpi biasa. Ketika ia terbangun dan menceritakannya kepada juru kunci makam, sang juru kunci menafsirkan: itu adalah petunjuk dari Mbah Djugo agar Ong Hok Liong mengganti nama pabriknya.

Ong Hok Liong pun mengikuti petunjuk itu. Dan dari keputusan yang mungkin terdengar tidak masuk akal bagi sebagian orang itulah, lahir salah satu nama paling ikonik dalam sejarah industri rokok Indonesia.

Kisah Ong Hok Liong dimulai jauh sebelum momen di Gunung Kawi itu. Ia lahir di Desa Karang Pacar, Bojonegoro, Jawa Timur, pada 12 Agustus 1893. Tumbuh dalam keluarga pedagang tembakau, ia sudah akrab dengan dunia tembakau sejak kecil. Ia merantau ke Malang, membangun usaha dari bawah, dan pada 1921 sudah cukup mapan untuk memboyong keluarganya tinggal bersamanya di kota itu.

Pada era 1930-an, bersama rekannya Tjoa Sioe Bian, Ong Hok Liong mendirikan pabrik rokok di Malang. Awalnya perusahaan itu bernama Strootjes-Fabriek Ong Hok Liong, kemudian berganti menjadi Hien An Kongsie. Pabrik itu mulanya memproduksi rokok dengan merek-merek unik: tjap Burung, tjap Klabang, dan Djeroek Manis.

Usaha berjalan, tapi belum benar-benar bersinar.

Pada 1951, nama perusahaan berganti lagi menjadi NV Pertjetakan Liem An. Tapi merek rokoknya masih dirasa kurang laku di pasar. Di titik inilah perjalanan ke Gunung Kawi pada 1954 itu terjadi.

Setelah mimpi ubi talas itu, Ong Hok Liong memilih nama dari bahasa Jawa untuk menyebut ubi talas: bentul. Karena saat itu Ejaan Yang Disempurnakan belum ada — baru diberlakukan pada 1973 — maka penulisannya menjadi Bentoel.

Nama perusahaan resmi berganti menjadi PT Perusahaan Rokok Tjap Bentoel.

Dan sesuatu berubah setelah itu. Sejak resmi berganti nama, bisnis berkembang sangat pesat. Jumlah karyawan mencapai 3.000 orang sebelum 1960. Iklannya kala itu cukup populer dengan slogan: “Memang betul merokok tjap Bentoel.”

“Ketika dia meninggal pada tahun 1967, Ong Hok Liong adalah seorang multijutawan dan Bentoel telah tumbuh menjadi rokok pribumi terbesar kedua di Indonesia,” tulis George Quinn dalam Bandit Saints of Java (2019).

Setelah Ong Hok Liong wafat, anaknya Budhiwijaya Kusumanegara menggantikan posisi sang ayah sebagai Presiden Direktur Bentoel. Tapi masa kejayaan itu tidak berlangsung selamanya.

Pada era 1980-an, PT Perusahaan Rokok Tjap Bentoel tidak mampu membayar pinjamannya ke BRI dan Bank Bumi Daya senilai 170 juta dolar AS. Utang Bentoel dengan kreditor asing bahkan menggelembung menjadi 350 juta dolar AS.

Tujuh puluh persen saham keluarga Ong Hok Liong pun harus dilepas. Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto sempat berniat membelinya, tapi gagal. Akhirnya Bentoel jatuh ke tangan konglomerat Peter Sondakh melalui Rajawali Wira Bhakti Utama. Pada 1997, aset perusahaan dialihkan ke PT Bentoel Prima, sementara entitas lama bubar. Pada 2000, Bentoel resmi menjadi PT Bentoel Internasional Investama Tbk.

Kini mayoritas saham Bentoel dikuasai raksasa tembakau global British American Tobacco dengan kepemilikan 92,48 persen, sementara sisanya dimiliki publik.

Dari pabrik kecil di Malang yang awalnya memproduksi rokok tjap Klabang, hingga menjadi bagian dari konglomerat tembakau Inggris bertaraf dunia, perjalanan Bentoel adalah kisah tentang seorang perantau dari Bojonegoro yang bukan sekadar pandai berdagang — tapi juga percaya bahwa semesta kadang berbicara lewat cara-cara yang tidak selalu bisa dijelaskan dengan logika.

Sebuah mimpi tentang ubi talas di dekat makam Gunung Kawi mengubah nasib sebuah pabrik rokok kecil di Malang menjadi merek yang dikenal jutaan orang. Dan mungkin itulah pelajaran paling tidak terduga dari kisah ini: keputusan yang mengubah segalanya tidak selalu datang dari ruang rapat atau laporan keuangan.

Kadang ia datang dari tidur siang di dekat makam keramat.

Bagikan